Jumat, 08 November 2013

Menuju Demokrasi Subtansial



Oleh M Al Mustafad
Sedikitnya ada 37 kepala daerah terpilih di seluruh Indonesia yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pejabat negara lainnya. Sebagian dari mereka melanjutkan jabatan suami, saudara atau orang tua yang pernah menjabat sebagai kepala daerah. Atau bahkan bersama-sama menjabat sebagai kepala daerah dalam satu lingkup provinsi.
Politik dinasti yang marak terjadi di Indonesia bukan tanpa sebab, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang demokrasi menjadikan praktek politik dinasti sulit untuk dihilangkan. Demokrasi dinegara kita saat ini masih stagnan pada level demokrasi transaksional. Hal ini ditandai dengan marakknya praktek money politics yang terjadi pada saat pemilu maupun pilkada.  Demokrasi transaksional memberikan kesempatan kepada para penguasa dan pemilik modal besar untuk turut andil dalam memenangkan pemilu dan pilkada.
Dari segi hukum, politik dinasti memang tidak bisa disalahkan. Karena mereka sah dipilih oleh rakyat berdasarkan perolehan suara terbanyak. Namun yang dikhawatirkan adalah politik dinasti rawan disalahgunakan. Sistem tersebut membuka lebar kesempatan untuk menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kerabatnya. Politik dinasti juga rentan akan terjadinya praktek korupsi yang sistematis karena mereka ditopang oleh kerabat lainnya yang juga menjabat sebagai kepala daerah maupun wakilnya disatu lingkup kekuasaan baik tingkat provinsi maupun kebupaten.
Praktik politik dinasti memang sudah seharusnya dicegah dan dihilangkan. Menjadi tanggung jawab pemerintah dan kita (kaum akademisi) untuk memberikan pemahaman tentang demokrasi kepada rakyat secara menyeluruh. Masyarakat harus paham bahwa demokrasi bukan hanya soal pemungutan suara terbanyak (voting) untuk menentukan seorang kepala daerah ataupun kepala negara. Sudah saatnya kita naik level dari demokrasi transaksional menuju demokrasi subtansial. Mengembalikan esensi dari sebuah sistem demokrasi. Yaitu untuk menentukan pemimpin dan menciptakan sebuah sistem pemerintahan yang benar-benar dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
 M Al Mustafad, Mahasiswa FISIP Unwahas

*versi asli sebelum diterbitkan di Koran Suara Merdeka pada Kamis 7 November 2013
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/11/07/242346/Kembalikan-pada-Esensi-