Senin, 30 Desember 2013

Pemilukada DKI dan Hilangnya Kredibilitas Partai



Setelah terkungkung selama kurang lebih 40 tahun dalam sebuah sistem pemerintahan yang otoriter, Indonesia sudah menunjukkan eksistensinya dalam menjalankan sebuah sistem pemerintahan yang demokratis. Hal ini dibuktikan dengan telah terlaksananya pemilu legislatif dan eksekutif secara langsung pada pemilu tahun 2004 dan 2009 silam. Partai politik sebagai instrumen terpenting dalam sebuah sistem demokrasi menjadi satu-satunya wadah paling efektif bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasi politik mereka. Rakyat percaya partai politik bisa mewakili suara mereka dan bisa mewujudnya sebuah pemerintahan yang membela kepentingan rakyat.
Seiring berjalannya waktu partai politik saat ini mengalami pergeseran makna dan tujuan. Munculnya budaya oligarki dalam tubuh partai sedikit demi sedikit menggeser tujuan awal dari sebuah partai. Menurut Asshiddiqie (2008) partai politik adalah media aspirasi bagi masyarakat luas untuk ikut dalam proses penentuan kebijakan dalam kehidupan bernegara. Namun, yang terjadi saat ini, partai politik hanya memperjuangkan kepentingan pengurus partai dan mengesampingkan kepentingan rakyat secara umum.
Hal ini bisa dilihat dari tingkat kepuasan masyarakat terhadap partai politik yang terus menurun dari tahun ke tahun. Tidak sedikit masyarakat yang merasa kecewa dengan kinerja wakil-wakil mereka dari partai politik yang telah duduk dalam jajaran pemerintahan (legislatif dan eksekutif). Banyak pejabat publik yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat tidak bisa konsisten dengan janji-janji mereka saat berkampanye politik. Para pejabat publik tidak bisa membedakan kepentingan partai (politik) dengan kepentingan rakyat.
Kepentingan partai (politik) disini diartikan sebagai usaha untuk menjaga eksistensi dan upaya untuk mempertahankan kekuasaan. Bukan usaha untuk mengemban aspirasi rakyat dalam membela kepentingan dan menentukan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Alhasil, rakyat merasa dibohongi dan dikecewakan oleh mereka (pejabat publik dari parpol). Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin kepercayaan rakyat terhadap partai politik akan lenyap, yang akhirnya juga menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap sistem pemilu. Banyaknya suara-suara golput dalam pemilu daerah (pilkada) akhir-akhir ini menjadi tanda-tanda hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik maupun sistem pemilu. Apabila masyarakat sudah tidak lagi percaya dengan hasil pemilu, apa bedanya bangsa kita sekarang dengan saat sebelum reformasi? Ketika suara rakyat tak pernah didengar, masih bisakah kita disebut negara demokrasi yang mengagung-ngagungkan suara rakyat=suara tuhan?
Hilangnya Kredibiltas Partai
Pilkada DKI Jakarta bisa menjadi contoh bagaimana rakyat sudah tidak percaya lagi dengan partai politik. Dilihat dari koalisi yang dibentuk kubu Foke-Nara yang didukung oleh partai Demokrat, PPP, Golkar, PAN dan PKS harusnya bisa menang mutlak jika para simpatisan dan anggota partai mendukung penuh pasangan Foke-Nara. Prosentase suara kelima partai besar itu jika digabungkan mencakup sekitar 83% suara sedangkan kubu Jokowi-Ahok yang diusung partai PDIP dan Gerinda hanya sekitar 17% suara. Namun perkiraan ini ternyata melenceng jauh. Meskipun hanya diusung oleh dua partai yang notabennya memiliki simpatisan kecil di Jakarta, faktanya Jokowi-Ahok mampu mengungguli perolehan suara Foke-Nara pada pilkada DKI putaran ke dua kemarin. Menurut hemat penulis, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku memilih masyarakat Jakarta dalam pilkada tahun ini.
Pertama, masyarakat Jakarta sudah jenuh dengan pemerintahan Foke yang dianggap sebagian masyarakat tidak membawa perubahan yang signifikan dalam kurun waktu 5 tahun masa jabatanya. Masyarakat Jakarta khususnya masyarakat menengah kebawah mulai jenuh dengan janji-janji Foke selama kampanye pilkada berlangsung. Ekonomi kerakyatan yang selalu di agung-agungkan oleh Fauzi Bowo dianggap hanya sebuah wacana yang belum pernah terealisasi di masa jabatanya selama 5 tahun.
Kedua, prestasi-prestasi yang dimiliki Jokowi selama menjadi walikota Solo dua periode menjadi nilai plus bagi Jokowi. Popularitas yang di bangun Jokowi di kanca nasional maupun internasional sudah tidak diragukan lagi. Meskipun pada awal pemerintahannya di kota Solo Jokowi mendapat banyak kritikan dan serangan demonstrasi dari warganya dengan program-program pemerintahannya yang dianggap ektrim toh pada akhirnya Jokowi terbukti mampu membawa perubahan yang lebih baik dalam pembangunan kota Solo.
Masyarakat Indonesia, khususnya sudah mulai cerdas dalam menentuka pilihan politik mereka. Meskipun pasangan Jokowi bukan pasangan independen melainkan pasangan yang diusung partai politik (PDIP dan Gerindra) namun pilkada DKI menunjukan bahwa peran partai dalam menentukan sikap pemilih DKI hanya sekian persen. Selebihnya adalah naluri rasional yang dimiliki untuk memilih calon pemimpin mereka. Jokowi dianggap lebih kompeten ketimbang Foke untuk memimpin Jakarta. Semangat muda Jokowi diharapkan mampu membawa perubahan di provinsi DKI Jakarta menjadi lebih baik.
Bukan bermaksud mengkritisi maupun menjelekkan partai koalisi pengusung Foke-Nara, namun pilkada DKI harusnya bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi partai politik. Bagaimana sebuah partai tak mampu lagi menyajikan calon pemimpin seperti harapan rakyat. Dengan demikian partai politik tak lebih dari sebuah alat yang hanya di pakai untuk memperoleh kekuasaan yang mengorbankan suara rakyat.
Pilkada DKI adalah contoh nyata sebuah sistem demokrasi tanpa partai. Yang dimaksud tanpa partai adalah masyarakat tidak memilih berdasarkan dari partai mana calon itu berasal, namun lebih kepada calon mana yang mereka anggap lebih kompeten dan mampu menjadi pemimpin yang mereka tanpa memandang embel-embel partai pengusung calon.
Yang kita nantikan sekarang adalah kinerja cagub dan cawagub terpilih (Jokowi-Ahok) dalam memimpin Jakarta. Jakarta berbeda dengan Solo, Jakarta adalah sebuah kota besar dengan berbagai permasalahanya. Namun kita semua berharap Jokowi mampu membawa perubahan yang lebih baik seperti yang dia lakukan saat memimpin kota solo.



M. Al Mustafad

Peneliti di el Wahid Center,
Unversitas Wahid Hasyim Semarang

 di publikasikan pertama kali di kolom Opini Koran  Lampung Post, Kamis, 27 September 2012

Jumat, 08 November 2013

Menuju Demokrasi Subtansial



Oleh M Al Mustafad
Sedikitnya ada 37 kepala daerah terpilih di seluruh Indonesia yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pejabat negara lainnya. Sebagian dari mereka melanjutkan jabatan suami, saudara atau orang tua yang pernah menjabat sebagai kepala daerah. Atau bahkan bersama-sama menjabat sebagai kepala daerah dalam satu lingkup provinsi.
Politik dinasti yang marak terjadi di Indonesia bukan tanpa sebab, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang demokrasi menjadikan praktek politik dinasti sulit untuk dihilangkan. Demokrasi dinegara kita saat ini masih stagnan pada level demokrasi transaksional. Hal ini ditandai dengan marakknya praktek money politics yang terjadi pada saat pemilu maupun pilkada.  Demokrasi transaksional memberikan kesempatan kepada para penguasa dan pemilik modal besar untuk turut andil dalam memenangkan pemilu dan pilkada.
Dari segi hukum, politik dinasti memang tidak bisa disalahkan. Karena mereka sah dipilih oleh rakyat berdasarkan perolehan suara terbanyak. Namun yang dikhawatirkan adalah politik dinasti rawan disalahgunakan. Sistem tersebut membuka lebar kesempatan untuk menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kerabatnya. Politik dinasti juga rentan akan terjadinya praktek korupsi yang sistematis karena mereka ditopang oleh kerabat lainnya yang juga menjabat sebagai kepala daerah maupun wakilnya disatu lingkup kekuasaan baik tingkat provinsi maupun kebupaten.
Praktik politik dinasti memang sudah seharusnya dicegah dan dihilangkan. Menjadi tanggung jawab pemerintah dan kita (kaum akademisi) untuk memberikan pemahaman tentang demokrasi kepada rakyat secara menyeluruh. Masyarakat harus paham bahwa demokrasi bukan hanya soal pemungutan suara terbanyak (voting) untuk menentukan seorang kepala daerah ataupun kepala negara. Sudah saatnya kita naik level dari demokrasi transaksional menuju demokrasi subtansial. Mengembalikan esensi dari sebuah sistem demokrasi. Yaitu untuk menentukan pemimpin dan menciptakan sebuah sistem pemerintahan yang benar-benar dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
 M Al Mustafad, Mahasiswa FISIP Unwahas

*versi asli sebelum diterbitkan di Koran Suara Merdeka pada Kamis 7 November 2013
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/11/07/242346/Kembalikan-pada-Esensi-

Selasa, 08 Oktober 2013

PEMBAHARU DUNIA PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA




Oleh : M. Almustafad 

Pendahuluan

Pendidikan di  pesantren selalu menjadi sebuah kajian yang menarik bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri dibanding jenis pendidikan yang lain, semisal pendidikan umum, tetapi juga karena kaya akan konsep-konsep yang tidak kalah bermutu dibanding dengan pendidikan modern. Dalam hazanah pemikiran pendidikan di lingkungan pesantren, banyak kita temukan tokoh-tokoh besar dengan ide-idenya yang cerdas dan kreatif yang menjadi inspirasi dan konstribusi yang besar bagi dinamika pendidikan islam, khususnya pesantren dan madrasah di Indonesia.

Mempelajari gagasan dan pemikiran tokoh masa lalu merupakan sebuah upaya revitalisasi pemikiran pendidikan di indonesia, yang harus terus menerus dilakukan dengan berbagai pendekatan dan metode disiplin ilmu (multi-inter-disipliner). Di samping itu, merupakan aktualisasi pemikiran dan gerakan seorang tokoh yang bisa di jadikan model/contoh bagi para pelaku-pelaku pendidikan masa kini.
Mengenal KH. Abdul Wahid Hasyim
Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan islam adalah KH. Abdul Wahid Hasyim. Putra dari KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh binti Kyai Ilyas. Wahid Hasyim lahir pada hari jum’at legi, tanggal 5 Rabiul Awal 1333 H, bertepatan dengan 1 Jumi 1914 di Desa Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Oleh ayahnya KH. Hasyim Asy’ari diberi nama Muhammad Asy’ari, terambil dari nama kakeknya. Konon karena Beliau sering sakit-sakitan, kemudian oleh ayahnya diganti dengan nama Abdul Wahid, pengambilan dari nama seorang datuknya.
Keluarga besar Pesantren Tebuireng menyambut suka cita atas kelahiran Wahid Hasyim. Suatu kebahagiaan yang amat besar, bayi yang rupawan itu adalah laki-laki yang pertama, setelah sebelumnya dianugerahi empat orang putri yaitu : Abdullah (meninggal masih bayi), Hanna, Ummu Abd. Jabar, Ummu Muhammad dan Ummu Abd. Haq. Jadi keempat kakak Wahid Hasyim yang masih hidup waktu beliau adalah perempuan, sedang kakak pertamanya yang laki-laki meninggal waktu lahir. Wahid Hasyim adalah anak kelima yang masih hidup. Sedang adiknya ada sembilan orang yaitu; Abd. Hafidz, Abd karim, Ubaidillah, Masruroh, Yusuf, Abd Kadir, Fatimah, Khadijah, dan Abd Ya’qub. Dari kesepuluh putra putra Hasyim Asy’ari yang masih hidup adalah tiga orang, yaitu Yusuf Hasyim (sekarang meneruskan perjuangan ayahnya memimpin pesantren Tebuireng) dan kedua adiknya yaitu Fatimah dan A. Ya’qub.[1]
Wahid Hasyim memiliki otak yang sangat cerdas. Pada usia 5 tahun beliau sudah belajar membaca al-Quran dan khatam pada usia 7 tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya beliau juga belajar di bangku madrasah di pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun beliau sudah tamat madrasah dan mulai membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak seusianya.
Masa kecil Wahid Hasyim di isi dengan mengasuh di madrasah Tebuireng. Sejak kecil beliau sudah hobi membaca dan giat mempelajari ilmu-ilmu kesusastraan dan budaya Arab scara otodidak. Beliau hafal banyak syair Arab yang kemudian disusun menjadi sebuah buku. Sebagai seorang anak tokoh, beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah pemerintah Hindia Belanda. Pada usia 13 tahun beliau memulai petualangan dalam mencari ilmu, di mulai dari pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Di sana ia belajar kitab-kitab Bidayah, Sulamun Taufiq, Taqrib dan Tafsir Jalalain. Namun beliau hanya belajar selama 25 hari di pesantren tersebut. Selanjutnya beliau pindah ke pondok pesantren Lirboyo, Kediri, namun di sana beliau cuma beberapa hari saja. Setelah dari Lirboyo beliau tidak melanjutkan pengembaraan lagi melainkan memilih untuk tinggal di rumah saja.
Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu seolah-olah yang di butuhkan Wahid hasyim keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Menurut beliau ilmu bisa di cari dimana saja, tapi soal memperoleh keberkatan sang guru harus dilakukan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menetap di pesantren. Mungkin inilah yang menjadi pertimbangan Wahid Hasyim pada waktu itu.
Ketika kembali ke Tebuireng tahun 1929, umurnya baru 15 tahun dan baru mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Beliau belajar ilmu bumi, bahasa asing, matematika dan ilmu lainnya. Beliau juga berlangganan koran majalah, baik yang berbahasa Indonesia, arab maupun belanda.
Pada tahun 1932, ketika berusia 18 tahun, Wahid Hasyim dengan di temani sepupunya Muhammad Ilyas pergi ketanah suci mekah. Selain untuk menjalankan ibadah haji, mereka berdua juga bertujuan untuk memperdalam ilmu pengetahuan di sana, seperti ilmu tasawuf, shorof, fiqh, tafsir, dan hadist. Mereka berdua menetap di tanah suci selama 2 tahun.
Sepulang Wahid Hasyim dari Mekkah beliau langsung mengamalkan ilmunya dengan menjadi staf pengajar di pesantren Tebuireng. Beliau juga ditunjuk sebagai asisten ayahnya yang tugasnya, antara lain menjaga kesinambungan proses belajar mengajar (PMB), menjawab surat-surat yang berkaitan dengan fiqih yang ditujukan kepada ayahnya dan mendatangi pengajian atau ceramah.[2] Menggantikan ayahnya dalam berbagai pertemuan para tokoh. Bahkan ketika ayahnya sakit, beliau menggantikan membacakan kitab Shahih Bukhori, yakni pengajian tahunan yang di ikuti oleh para ulama dari berbagai penjuru tanah Jawa dan Madura.[3]

Pada usia 25 tahun Wahid Hasyim mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu masih berusia 15 tahun. Pasangan ini dikaruniai enam orang putra;
1.         Abdurrohman ad-Dakhil (mantan presiden RI)
2.         Aisyah (Ketua umum PP Muslimat NU, tahun 1995-2000)
3.         Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB/ Pengasuh PP Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim)
4.         Umar (dokter lulusan UI)
5.         Khadijah
6.         Hasyim
Sayang sekali, Wahid Hasyim tidak sempat mendidik anak-anaknya lebih lama karena beliau meninggal dunia dalam usia yang relatif muda yaitu 39 tahun. Beliau wafat dalam sebuah kecelakaan mobil antara Cimahi dan Bandung pada tanggal 19 April 1953, dalam rangka perjalanan menghadiri rapat NU di Sumedang. Jenazah dari Jakarta di terbangkan ke Tebuireng, dan di makamkan di samping makam ayahnya.[4]

 Pengaruh KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Dunia Pendidikan Islam di Indonesia
1)    Revolusi Pesantren Tebuireng
Sepulang dari Mekkah pada akhir tahun 1933 Wahid Hasyim mulai bergerak. Beliau mulai memasuki masyarakat dan mulai memimpin dan mendidik. Pekerjaan itu di mulai dalam lingkungan pondok pesantren Tebuireng. Hasrat Wahid Hasyim untuk mengadakan revolusi dalam dunia sudah mulai nampak. Cara kuno yang hanya terjadi dari mendengar dan menggantungkan makna pada kitab-kitab fiqih mulai ditinjau kembali oleh beliau. Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, beliau rencana yang matang. Beliau tidak ingin gerakan ini gagal ditengah jalan. Untuk itu, Wahid Hasyim mengadakan langkah-langkah sebagai berikut;
·      Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
·      Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
·      Memberikan keyakinan dan jalan-jalan bahwa dengan bersungguh-sungguh tujuan yang digambarkan itu bisa tercapai[5]
 Tujuan Wahid Hasyim tidak lain hanya untuk memajukan pengajaran dan pendidikan Islam di pesantren. Wahid Hasyim yang telah memiliki cukup ilmu dan pengalaman, dan telah memiliki pandangan yang luas dalam memperbandingkan metode pemgajaran di luar dan dalam negeri, ingin memberikan sumbangan dalam hal ini untuk kemajuan dunia pesantren. Beliau tidak ingin lagi melihat para santri lebih rendah kedudukannya dalam masyarakat dari pada kaum terpelajar Barat.
Meski tidak pernah mengenyam pendidikan modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian di aplikasikan dalam kegiatan-kegiatan  yang bersifat sosial dan pendidikan. Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia pada awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.[6]
Setelah percobaan metode baru ini yang terdiri penggabungan ilmu Agama Islam dan pengetahuan umum berhasil, bertambah yakinlah Wahid Hasyim bahwa beliau harus bekerja lebih giat dan harus meluaskan usahanya menjadi suatu usaha yang tetap.
Pada tahun berikutnya yaitu tahun 1935 dimulailah membuka dengan cara besar-besaran sebuah madrasah yang modern, yang dinamakan Madrasah Nizamiyah, suatu perguruan yang diciptakan Wahid Hasyim sendiri., dengan cara dan daftar pelajaran yang belum pernah terjadi dan belum pernah ada yang berani menciptakan sebagai salah satu bentuk pesantren Islam. Disamping pelajaran agama Islam, didalamnya di berikan pula pelajaran-pelajaran ilmu pengetahuan umum, juga pelajaran bahasa Arab, Indonesia, Belanda dan Inggris. Segala kritik serangan mengenai usahanya dari berbagai golongan tidak diindahkan oleh Wahid Hasyim. Semua itu disambut dengan tenang dan beliau berjalan dengan penuh keyakinan sebagai seorang idealist.
Madrasah yang didirikan oleh Wahid Hasyim semakin lama semakin maju dan semakin banyak murid yang datang untuk bersekolah disana. Pada tahun 1936 beliau mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar-pelajar Islam) yang diketuai oleh beliau sendiri. Organisasi ini berkembang cukup pesat, tidak lama kemudian organisasi ini mendirikan sebuah taman bacaan atau perpestakaan yang menyediakan hampir 1000 judul bacaan untuk anak-anak dan pemuda. Buku-buku bacaan itu terdiri dari bahasa Indonesia, Arab, Jawa, Madura, Sunda, Belanda dan Inggris. Suatu kemajuan yang luar biasa di pesantren pada waktu itu.

2)    Perjuangan di NU
Pada tahun 1938 Wahid Hasyim mulai aktif di NU, memulai karir dari menjadi sekretaris di NU Ranting Cukir, kemudian naik menjadi pengurus cabang Jombang. Lalu tahun 1940 beliau masuk kepengurusan PBNU bagian Ma’arif (pendidikan). Di tubuh Ma’arif NU Wahid Hasyim mengembangkan dan mereorganisasi terhadap madrasah-madrasah NU di seluruh Indonesia dengan cara mendata jumlah madrasah, tenaga pengajar, kurikulum dan administrasi madrasah, serta meningkatkan wawasan pengetahuan baru yang diperlukan sebagai alat perjuangan umat Islam. Beliau juga giat mengembangkan tradisi tulis menulis di kalangan NU, dengan menerbitkan Majalah Suluh Nahdlatul Ulama. Beliau juga aktif menulis di Suara NU dan berita NU. Setelah NU berubah menjadi partai politik, Wahid Hasyim sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.

3)    Masa Setelah Kemerdekaan
Di dalam kabinet pertama yang di bentuk Presiden Soekarno (September 1945), Wahid Hasyim ditunjuk sebagai Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir tahun 1946. Ketika KNIP di bentuk, Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggota anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946. Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam kabinet Hatta beliau diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, Kabinet Sukiman.[7]
Selama menjabat sebagai Menteri Agama RI, Wahid Hasyim mengeluarkan tiga keputusan yang sangat mempengaruhi sistem pendidikan Indonesia di masa kini, yaitu ;
a)    Mengeluarkan peraturan pemerintah tertanggal 20 januari 1950, yang mewajibkan pendidikan agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri maupun swasta.
b)   Mendirikan sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang, Banda Aceh, Bandung, Bukit Tinggi dan Jogjakarta.
c)    Mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjung Pinang, Banda Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan dan Salatiga.
Jasa lainnya adalah pendirian Sekolah Tinggi Islam di Jakarta (tahun 1944), yang pengasuhnya di tangani oleh KH. Kahar Muzzaki. Lalu pada tahun 1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN/UIN/STAN, serta mendirikan wadah Panitia Haji Indonesia (PHI). Wahid Hasyim juga memberikan ide kepada presiden Soekarno  untuk mendirikan masjid Istqlal sebagai masjid negara.[8]

4)   Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional
Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa.[9]
















Penutup
Dari urian diatas, dapat kita simpulkan bahwa, model pembaharuan pesantren dan madrasah yang di gagas Wahid Hasyim adalah cara memperbaharui aspek kelembagaan, isi, metodologi dan fungsi lembaga pesantren dan madrasah. Sedang model yang diambil adalah mengembangkan sistem dan kelembagaan yang dimilikinya, bukan cara mengadopsi sistem pendidikan Barat secara keseluruan. Satu hal yang bisa kita contoh dari seorang KH. Abdul Wahid Hasyim adalah kegigihannya dalam memperjuangkan kaumnya dan sifat pantang menyerah dalam mencapai apa yang di cita-citakan.





















DAFTAR PUSTAKA


Bakar, Abu. (1957). Sejarah Hidup H. A. Wahid Hasyim dan Karangan

Tersiar, Jakarta;panitia buku peringatan alm. KH. A. Wahid Hasyim

Uneiz, 9 Febuari 2009, KH. A. Wahid Hasyim Pembaharu Dunia Pesantren

Kantor Berita Ekonomi Syariah,12 Juni 2008, KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953)

Dihya, 25 Maret 2010, KH. Wahid Hasyim

Basori, Rachman, 2008, The Founding Father Pesantren Modern Indonesia Jejak Langkah K. H. A. Wahid Hasyim, Jakarta: Inceis

Zaeni, Achmad, 2003, KH. Abdul Wahid Hasyim Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan, Jakarta: Forum Indonesia Satu








[1] Ruchman Basori, THE FOUNDING FATHER Pesantren Modern Islam Jejak Langkah KH. A. Wahid Hasyim ,jakarta;ineis,2008,hal 58-59
[2] Ibid, hal 68
[3] Uneiz, KH. A. Wahid Hasyim Pembaharu Dunia Pesantren, 9 Febuari 2009
[4] Ibid, hal 68
[5] Abu Bakar, Sejarah Hidup H. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, Jakarta,panitia buku peringatan alm. KH. A. Wahid Hasyim,1957, hal 150
[6]Kantor Berita Ekonomi Syariah, KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953),12 Juni 2008
[7] Dihya, KH. Wahid Hasyim, 25 Maret 2010
[8] Ibid
[9] Ibid