Senin, 30 Desember 2013

Pemilukada DKI dan Hilangnya Kredibilitas Partai



Setelah terkungkung selama kurang lebih 40 tahun dalam sebuah sistem pemerintahan yang otoriter, Indonesia sudah menunjukkan eksistensinya dalam menjalankan sebuah sistem pemerintahan yang demokratis. Hal ini dibuktikan dengan telah terlaksananya pemilu legislatif dan eksekutif secara langsung pada pemilu tahun 2004 dan 2009 silam. Partai politik sebagai instrumen terpenting dalam sebuah sistem demokrasi menjadi satu-satunya wadah paling efektif bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasi politik mereka. Rakyat percaya partai politik bisa mewakili suara mereka dan bisa mewujudnya sebuah pemerintahan yang membela kepentingan rakyat.
Seiring berjalannya waktu partai politik saat ini mengalami pergeseran makna dan tujuan. Munculnya budaya oligarki dalam tubuh partai sedikit demi sedikit menggeser tujuan awal dari sebuah partai. Menurut Asshiddiqie (2008) partai politik adalah media aspirasi bagi masyarakat luas untuk ikut dalam proses penentuan kebijakan dalam kehidupan bernegara. Namun, yang terjadi saat ini, partai politik hanya memperjuangkan kepentingan pengurus partai dan mengesampingkan kepentingan rakyat secara umum.
Hal ini bisa dilihat dari tingkat kepuasan masyarakat terhadap partai politik yang terus menurun dari tahun ke tahun. Tidak sedikit masyarakat yang merasa kecewa dengan kinerja wakil-wakil mereka dari partai politik yang telah duduk dalam jajaran pemerintahan (legislatif dan eksekutif). Banyak pejabat publik yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat tidak bisa konsisten dengan janji-janji mereka saat berkampanye politik. Para pejabat publik tidak bisa membedakan kepentingan partai (politik) dengan kepentingan rakyat.
Kepentingan partai (politik) disini diartikan sebagai usaha untuk menjaga eksistensi dan upaya untuk mempertahankan kekuasaan. Bukan usaha untuk mengemban aspirasi rakyat dalam membela kepentingan dan menentukan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Alhasil, rakyat merasa dibohongi dan dikecewakan oleh mereka (pejabat publik dari parpol). Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin kepercayaan rakyat terhadap partai politik akan lenyap, yang akhirnya juga menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap sistem pemilu. Banyaknya suara-suara golput dalam pemilu daerah (pilkada) akhir-akhir ini menjadi tanda-tanda hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik maupun sistem pemilu. Apabila masyarakat sudah tidak lagi percaya dengan hasil pemilu, apa bedanya bangsa kita sekarang dengan saat sebelum reformasi? Ketika suara rakyat tak pernah didengar, masih bisakah kita disebut negara demokrasi yang mengagung-ngagungkan suara rakyat=suara tuhan?
Hilangnya Kredibiltas Partai
Pilkada DKI Jakarta bisa menjadi contoh bagaimana rakyat sudah tidak percaya lagi dengan partai politik. Dilihat dari koalisi yang dibentuk kubu Foke-Nara yang didukung oleh partai Demokrat, PPP, Golkar, PAN dan PKS harusnya bisa menang mutlak jika para simpatisan dan anggota partai mendukung penuh pasangan Foke-Nara. Prosentase suara kelima partai besar itu jika digabungkan mencakup sekitar 83% suara sedangkan kubu Jokowi-Ahok yang diusung partai PDIP dan Gerinda hanya sekitar 17% suara. Namun perkiraan ini ternyata melenceng jauh. Meskipun hanya diusung oleh dua partai yang notabennya memiliki simpatisan kecil di Jakarta, faktanya Jokowi-Ahok mampu mengungguli perolehan suara Foke-Nara pada pilkada DKI putaran ke dua kemarin. Menurut hemat penulis, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku memilih masyarakat Jakarta dalam pilkada tahun ini.
Pertama, masyarakat Jakarta sudah jenuh dengan pemerintahan Foke yang dianggap sebagian masyarakat tidak membawa perubahan yang signifikan dalam kurun waktu 5 tahun masa jabatanya. Masyarakat Jakarta khususnya masyarakat menengah kebawah mulai jenuh dengan janji-janji Foke selama kampanye pilkada berlangsung. Ekonomi kerakyatan yang selalu di agung-agungkan oleh Fauzi Bowo dianggap hanya sebuah wacana yang belum pernah terealisasi di masa jabatanya selama 5 tahun.
Kedua, prestasi-prestasi yang dimiliki Jokowi selama menjadi walikota Solo dua periode menjadi nilai plus bagi Jokowi. Popularitas yang di bangun Jokowi di kanca nasional maupun internasional sudah tidak diragukan lagi. Meskipun pada awal pemerintahannya di kota Solo Jokowi mendapat banyak kritikan dan serangan demonstrasi dari warganya dengan program-program pemerintahannya yang dianggap ektrim toh pada akhirnya Jokowi terbukti mampu membawa perubahan yang lebih baik dalam pembangunan kota Solo.
Masyarakat Indonesia, khususnya sudah mulai cerdas dalam menentuka pilihan politik mereka. Meskipun pasangan Jokowi bukan pasangan independen melainkan pasangan yang diusung partai politik (PDIP dan Gerindra) namun pilkada DKI menunjukan bahwa peran partai dalam menentukan sikap pemilih DKI hanya sekian persen. Selebihnya adalah naluri rasional yang dimiliki untuk memilih calon pemimpin mereka. Jokowi dianggap lebih kompeten ketimbang Foke untuk memimpin Jakarta. Semangat muda Jokowi diharapkan mampu membawa perubahan di provinsi DKI Jakarta menjadi lebih baik.
Bukan bermaksud mengkritisi maupun menjelekkan partai koalisi pengusung Foke-Nara, namun pilkada DKI harusnya bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi partai politik. Bagaimana sebuah partai tak mampu lagi menyajikan calon pemimpin seperti harapan rakyat. Dengan demikian partai politik tak lebih dari sebuah alat yang hanya di pakai untuk memperoleh kekuasaan yang mengorbankan suara rakyat.
Pilkada DKI adalah contoh nyata sebuah sistem demokrasi tanpa partai. Yang dimaksud tanpa partai adalah masyarakat tidak memilih berdasarkan dari partai mana calon itu berasal, namun lebih kepada calon mana yang mereka anggap lebih kompeten dan mampu menjadi pemimpin yang mereka tanpa memandang embel-embel partai pengusung calon.
Yang kita nantikan sekarang adalah kinerja cagub dan cawagub terpilih (Jokowi-Ahok) dalam memimpin Jakarta. Jakarta berbeda dengan Solo, Jakarta adalah sebuah kota besar dengan berbagai permasalahanya. Namun kita semua berharap Jokowi mampu membawa perubahan yang lebih baik seperti yang dia lakukan saat memimpin kota solo.



M. Al Mustafad

Peneliti di el Wahid Center,
Unversitas Wahid Hasyim Semarang

 di publikasikan pertama kali di kolom Opini Koran  Lampung Post, Kamis, 27 September 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar