Judul: Kani Kosen: Sebuah Revolusi
Penulis: Kobayashi Takiji
Penerjemah: Andy Bangkit Setiawan
Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta
Tahun: Cetakan I, 2013
Tebal: x + 184 halaman
Harga: Rp 42.000,-
Peresensi: M Al Mustafad
Radar Seni, Minggu 31 Agustus 2013
Jepang
dalam kurun waktu tahun 1920-an mengalami suasan zaman ketegangan antara
kelompok sosial miskin versus kelompok social berada, ekonomi kapitalis versus
ekonomi terpuruk, kelompok politik fasistis militeristis versus kelompok
politik proletariat. Kaum majikan borjuis versus kaum pekerja. Partai politik
berkuasa sebagai mesin kaum birokrat kapitalis berhadapan dengan partai politik
proletariat yang didukung anak-anak muda dan segelintir intelektual kampus.
Novel
“Kani Kosen” (kani= kepiting, ko= pabrik, sen= kapal) atau Kapal Pabrik
Penangkapan Kepiting karya Kobayashi Takiji (1903-1933) adalah salah satu karya
sastra yang mengangkat secara lugas perlawanan rakyat miskin (pekerja) melawan
kaum kapitalis birokrat, kurun waktu 1920-an. Kobayashi Takiji sendiri adalah
seorang sastrawan komunis yang tewas disiksa oleh kepolisian Jepang diusianya
yang ke-29 tahun.
Kani
Kosen bercerita tentang kisah kehidupan para buruh pabrik pengolahan kepiting
di dalam sebuah kapal Hakkoumaru yang berlayar di perairan Kamchatka, Rusia,
yang bekerja dengan sangat keras dibawah kondisi yang sangat memprihatinkan.
Novel ini pertama kali diterbitkan di Jepang pada tahun 1929 namun pada
akhirnya di sensor dan dilarang terbit oleh pemerintah Jepang pada masa itu. Pada
tahun 2008 novel ini kembali diterbitkan oleh salah satu penerbit di Jepang dan
menjadi best seller pada waktu itu. Krisis ekonomi yang melanda Jepang pada
tahun 2008 menjadikan para pembaca Kani Kosen pada saat itu merasa ada kesamaan
situasi antara konsidi pekerja kapal Kani Kosen dengan kondisi para pekerja di Jepang
pada tahun 2008. Dimana mereka tidak bahagia, tidak bisa mencari solusi dari
kemiskinan mereka meski mereka bekerja keras, dan mereka juga dipaksa bekerja
dengan upah rendah. Pada tahun ini (2013) novel ini diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia oleh Andy Bangkit Setiawan dan diterbitkan oleh penerbit
Jalasutra.
Novel
Kani Kosen ini menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi jepang pada masa itu
yang begitu sulit. Para nelayan miskin di daerah Iwate yang diiming-imingi
untuk bekerja di kapal pengalengan kepiting dengan iming-iming upah yang besar
dan fasilitas yang memadai. Namun pada kenyataannya semua itu hanya omong
kosong belaka. Para pekerja/buruh disuruh bekerja dari pagi sampai malam. Para
mandor pun bertindak seenaknya menyiksa para pekerja yang melawan atau pun yang
ketahuan malas bekerja.
“Sedikit
saja aku melihat orang malas, akan kupanggang. Juga yang malas bergabung, akan
kusuruh renang di Kamchatka. Sebagai hukuman upahnya rotan. Jika kembali ke
Hakodate, akan kuserahkan ke polisi. Jangan melawan sedikitpun atau bisa mati
dipukul palu. Tertanda Mandor Asakawa. Kepala Kelasi”(hal, 152). Mandor tak
segan-segan membunuh dan menyiksa para pekerja. Salah seorang pekerja yang
mencoba menuntut haknya dan membela temannya yang sedang sakit keesokan harinya
ditemukan berada di ruang steam mesin. Beberapa lagi yang lain ditembak dan
dibuang ke laut kamatchka.
Pada
akhirnya para pekerja pun menyadari dan mulai muncul niat untuk melakukan perlawanan
atas penindasan yang dilakukan mandor mereka. Para pekerja kemudian berkumpul
di dek kapal. Para “provokator” yaitu si gagap, kadet, nelayan Shibaura, si
sombong juga berkumpul. Mereka memberikan orasi didepan para kru. “Kami tidak
peduli meski akan dipukuli, tapi kami mohon kekompakan saudar-saudara semua
untuk melawan itu”(hal,168).
Novel
ini juga mengisahkan bagaimana tentara kekaisaran yang di harapkan para pekerja
bias berpihak kepada mereka ternyata juga menjadi bagian dari musuh mereka yang
membela kaum kapitalis. Para peminpin aksi perlawanan di tangkap tentara
kekaisaran dengan tuduhan “orang licik”, “orang yang melanggar perintah”, serta
“menjual Negara dan berpihak pada komunis”. Meskipun perlawanan pertama mereka
(pekerja) belum berhasil, namun hal itu tidak membuat mereka menyerah. Hal ini malah membuat para pekerja menjadi
lebih bersemangat untuk melakukan perlawanan tanpa mempedulikan resiko yang
ditanggung, yang penting adalah menang.
Perberontakan
kedua membuahkan hasil dan sukses. Saat kembali ke Hakodate karena musim
berburu ikan sudah berkhir, ternyata bukan kapal Hakkoumaru saja yang melakukan
pemberontakan. Ada dua sampai tiga kapal lain yang mengeluarkan “pamflet
komunis” dari dalam kapal. Peristiwa ini menjadi titik awal bagi sejarah perlawanan
pada masa kolonialisme.
Revolusi
menjadi satu-satunya jalan paling efektif untuk melawan segala bentuk
penindasan. Ketika kaum tertindas dalam hal ini kaum buruh (ploletar) mampu
berkumpul dan menyatukan kekuatan bukan hal yang tidak segala bentuk
kolonialisme imperialisme mampu ditumbangkan. Peristiwa pemberontakan di kapal
Hakkoumaru ini bisa disebut sebagai revolusi sosial a’la Trotskyisme dimana
pemberontakan dilakukan secara tiba-tiba dan menggunakan cara kekerasan.
Meskipun
dalam penerjemahannya terdapat banyak ketidaksesuaian bahasa yang terkadang
menyulitkan dalam memahami cerita. Namun secara keseluruhan novel ini penuh
dengan pesan kemanusian yang sangat mendalam bagi para pembacanya.
Peresensi
M. Al Mustafad
Mahasiswa FISIP,
Universitas Wahid Hasyim Semarang