Senin, 02 September 2013

Revolusi dalam Sebuah Novel Jepang



Judul: Kani Kosen: Sebuah Revolusi
Penulis: Kobayashi Takiji
Penerjemah: Andy Bangkit Setiawan
Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta
Tahun: Cetakan I, 2013
Tebal: x + 184 halaman
Harga: Rp 42.000,-
Peresensi: M Al Mustafad
Radar Seni, Minggu 31 Agustus 2013



Jepang dalam kurun waktu tahun 1920-an mengalami suasan zaman ketegangan antara kelompok sosial miskin versus kelompok social berada, ekonomi kapitalis versus ekonomi terpuruk, kelompok politik fasistis militeristis versus kelompok politik proletariat. Kaum majikan borjuis versus kaum pekerja. Partai politik berkuasa sebagai mesin kaum birokrat kapitalis berhadapan dengan partai politik proletariat yang didukung anak-anak muda dan segelintir intelektual kampus.
Novel “Kani Kosen” (kani= kepiting, ko= pabrik, sen= kapal) atau Kapal Pabrik Penangkapan Kepiting karya Kobayashi Takiji (1903-1933) adalah salah satu karya sastra yang mengangkat secara lugas perlawanan rakyat miskin (pekerja) melawan kaum kapitalis birokrat, kurun waktu 1920-an. Kobayashi Takiji sendiri adalah seorang sastrawan komunis yang tewas disiksa oleh kepolisian Jepang diusianya yang ke-29 tahun.
Kani Kosen bercerita tentang kisah kehidupan para buruh pabrik pengolahan kepiting di dalam sebuah kapal Hakkoumaru yang berlayar di perairan Kamchatka, Rusia, yang bekerja dengan sangat keras dibawah kondisi yang sangat memprihatinkan. Novel ini pertama kali diterbitkan di Jepang pada tahun 1929 namun pada akhirnya di sensor dan dilarang terbit oleh pemerintah Jepang pada masa itu. Pada tahun 2008 novel ini kembali diterbitkan oleh salah satu penerbit di Jepang dan menjadi best seller pada waktu itu. Krisis ekonomi yang melanda Jepang pada tahun 2008 menjadikan para pembaca Kani Kosen pada saat itu merasa ada kesamaan situasi antara konsidi pekerja kapal Kani Kosen dengan kondisi para pekerja di Jepang pada tahun 2008. Dimana mereka tidak bahagia, tidak bisa mencari solusi dari kemiskinan mereka meski mereka bekerja keras, dan mereka juga dipaksa bekerja dengan upah rendah. Pada tahun ini (2013) novel ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Andy Bangkit Setiawan dan diterbitkan oleh penerbit Jalasutra.
Novel Kani Kosen ini menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi jepang pada masa itu yang begitu sulit. Para nelayan miskin di daerah Iwate yang diiming-imingi untuk bekerja di kapal pengalengan kepiting dengan iming-iming upah yang besar dan fasilitas yang memadai. Namun pada kenyataannya semua itu hanya omong kosong belaka. Para pekerja/buruh disuruh bekerja dari pagi sampai malam. Para mandor pun bertindak seenaknya menyiksa para pekerja yang melawan atau pun yang ketahuan malas bekerja.
“Sedikit saja aku melihat orang malas, akan kupanggang. Juga yang malas bergabung, akan kusuruh renang di Kamchatka. Sebagai hukuman upahnya rotan. Jika kembali ke Hakodate, akan kuserahkan ke polisi. Jangan melawan sedikitpun atau bisa mati dipukul palu. Tertanda Mandor Asakawa. Kepala Kelasi”(hal, 152). Mandor tak segan-segan membunuh dan menyiksa para pekerja. Salah seorang pekerja yang mencoba menuntut haknya dan membela temannya yang sedang sakit keesokan harinya ditemukan berada di ruang steam mesin. Beberapa lagi yang lain ditembak dan dibuang ke laut kamatchka.
Pada akhirnya para pekerja pun menyadari dan mulai muncul niat untuk melakukan perlawanan atas penindasan yang dilakukan mandor mereka. Para pekerja kemudian berkumpul di dek kapal. Para “provokator” yaitu si gagap, kadet, nelayan Shibaura, si sombong juga berkumpul. Mereka memberikan orasi didepan para kru. “Kami tidak peduli meski akan dipukuli, tapi kami mohon kekompakan saudar-saudara semua untuk melawan itu”(hal,168).
Novel ini juga mengisahkan bagaimana tentara kekaisaran yang di harapkan para pekerja bias berpihak kepada mereka ternyata juga menjadi bagian dari musuh mereka yang membela kaum kapitalis. Para peminpin aksi perlawanan di tangkap tentara kekaisaran dengan tuduhan “orang licik”, “orang yang melanggar perintah”, serta “menjual Negara dan berpihak pada komunis”. Meskipun perlawanan pertama mereka (pekerja) belum berhasil, namun hal itu tidak membuat mereka menyerah.  Hal ini malah membuat para pekerja menjadi lebih bersemangat untuk melakukan perlawanan tanpa mempedulikan resiko yang ditanggung, yang penting adalah menang.
Perberontakan kedua membuahkan hasil dan sukses. Saat kembali ke Hakodate karena musim berburu ikan sudah berkhir, ternyata bukan kapal Hakkoumaru saja yang melakukan pemberontakan. Ada dua sampai tiga kapal lain yang mengeluarkan “pamflet komunis” dari dalam kapal. Peristiwa ini menjadi titik awal bagi sejarah perlawanan pada masa kolonialisme.
Revolusi menjadi satu-satunya jalan paling efektif untuk melawan segala bentuk penindasan. Ketika kaum tertindas dalam hal ini kaum buruh (ploletar) mampu berkumpul dan menyatukan kekuatan bukan hal yang tidak segala bentuk kolonialisme imperialisme mampu ditumbangkan. Peristiwa pemberontakan di kapal Hakkoumaru ini bisa disebut sebagai revolusi sosial a’la Trotskyisme dimana pemberontakan dilakukan secara tiba-tiba dan menggunakan cara kekerasan.
Meskipun dalam penerjemahannya terdapat banyak ketidaksesuaian bahasa yang terkadang menyulitkan dalam memahami cerita. Namun secara keseluruhan novel ini penuh dengan pesan kemanusian yang sangat mendalam bagi para pembacanya.

Peresensi
M. Al Mustafad
Mahasiswa FISIP,
Universitas Wahid Hasyim Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar