Selasa, 08 Oktober 2013

MENGGALI POKOK PIKIRAN TAN MALAKA




1.      PENDAHULUAN
Ia, Tan Malaka[1], orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Soekarno menyebutnya "seseorang yang mahir dalam revolusi". Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.
Ia merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia jauh sebelum negara Indonesia Merdeka. Buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) ditulis tahun 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Dua bukunya yaitu Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia-1925) dan Massa Actie (Aksi Massa-1926) menjadi pegangan bagi tokoh-tokoh perintis kemerdekaan negeri ini. Tan malaka, sosok misterius dan legendaris yang mempunyai pemikiran-pemikiran brilian tentang bangsa Indonesia sehingga tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengenal Tan Malaka.
Tan Malaka dibesarkan dalam Islam yang religius dalam adat tradisional Minangkabau yang kental, sehingga sebagai seorang laki-laki dewasa ia harus merantau ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri. Pola pikirnya berubah ketika dia merantau ke negeri Belanda untuk menimba Ilmu. Saat terjadi Revolusi Bolshevik di Rusia, dia sangat terinspirasi akan keberhasilan revolusi tersebut yang menggugah nuraninya untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda.
Tan Malaka adalah satu dari sedikit anak bangsa yang konsisten memegang prinsip ideologis yang ia yakini hingga akhir hayatnya. Setelah kisah hidupnya dibungkam oleh Orde Baru, termasuk karya-karyanya dilarang beredar, pada pascareformasi nama Tan Malaka bergaung kembali. Tan Malaka pada masa perjuangan kemerdekaan sering disebut-sebut dari mulut ke mulut, namun sulit untuk mengetahui persis keberadaannya, hingga relatif orang hanya dapat mengetahui dari karya-karyanya. Hal itu karena Tan Malaka lebih banyak menyamar dengan berganti-ganti nama dan berpindah tempat, sebagai konsekuensi dari gerakannya yang tidak mau kompromi dengan penjajah -padahal sebagian dari pejuang kemerdekaan melakukan kompromi- juga konsekuensi dari gagasan-gagasan provokatif revolusionernya yang telah ia tuangkan dalam karya-karyanya yang dibaca secara sembunyi-sembunyi.
Makalah berjudul “Menggali Pokok – pokok Pikiran Tan Malaka” ini bertujuan untuk sedikit mengungkapkan perjuangan Tan Malaka melawan penjajah pada masa itu. Tan Malaka dikenal sebagai pahlawan yang tidak hanya berjuang scara fisik (tindakan) namun juga seorang pemikir kemerdekaan, hal ini dapat di lihat dari banyaknya buku yang ditulis Tan Malaka semasa hidupnya.
Tan Malaka memilih jalan konfrontasi sebagai pilihan perjuangannya, baginya negosiasi dengan penjajah sama artinya dengan menyerah kepada penjajah. Tak mengherankan jika Tan pernah mengkritik dan berseberangan dengan Soekarno ketika Soekarno menjalin kerjasama dengan pihak Jepang dengan alasan apapun.

2.      PEMBAHASAN
a)      Biografi
Tan Malaka berasal dari keluarga ternama di daerahnya. Ia lahir tanggal 2 Juni 1896 di Nagari Pandang Gadang, Sumatera Barat. Ayahnya seorang mantri cacar. Keluarga ayahnya memberinya nama Ibrahim (Sultan Sibrahim), dan dari pihak ibu menurut adat dilekatkan padanya gelar warisan Datuk Tan Malaka. Sehingga nama lengkapnya adalah Sultan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Setelah tamat dari Sekolah Rakyat, Tan Malaka melanjutkan pendidikannya selama enam tahun di Sekolah Guru Kweekschool yang terkenal dengan nama Sekolah Raja. Salah seorang gurunya di Sekolah Raja, G.H. Horensma menganjurkan agar Tan Malaka melanjutkan pendidikannya di Eropa. Atas jaminan Dominiscus, Kontalir di Suliki, guru Belanda tersebut berhasil membawa Tan Malaka ke Amsterdam pada tahun 1913. Tan Malaka dijadikan anak angkat Horensma.
Tan Malaka kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru di Harrlem. Pada bulan Juli 1915, ia lulus dari ujian di sekolahnya. Namun dua kali mengikuti ujian akta guru kepala, ia tak pernah berhasil lulus. Akhirnya tahun 1919 Tan Malaka kembali ke Indonesia sebagai guru di perkebunan Sanemba, Deli.
Perjuangan politik Tan Malaka pada dasarnya perjuangan melawan sistem, bukan memusuhi masyarakat yang hidup di bawah sistem itu.
Pada tahun 1921 Tan Malaka meninggalkan Medan menuju ke Pulau Jawa untuk melanjutkan cita-citanya, yakni mengajar bangsanya mengerti harga diri, sanggup berbuat dan berani berjuang.3) Pertemuannya dengan tokoh Komunis kenamaan, Semaun, membawanya ke pusat PKI di Semarang, di mana dia diberi tugas memimpin sebuah sekolah yang diselenggarakan oleh partai itu.
Sewaktu ia terlibat dalam pemogokan buruh di permulaan tahun 1922, dia ditangkap oleh pemerintah kolonial dan dibuang ke luar negeri. Dalam pembuangan tersebut, Tan Malaka memilih Belanda sebagai tempat memperjuangkan Indonesia dari jauh.
Kedatangannya di negeri Belanda merubah pemikiran di kalangan mahasiswa Indonesia di sana. Indische Vereeniging yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia, pada tahun 1923 diubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuan Indonesia merdeka dan majalah yang tadinya bernama “Hindia Belanda” diganti menjadi “Indonesia Merdeka”, kemungkinan ini sebagian pengaruh Tan Malaka.
Tanggal 5 Nopember 1922 Tan Malaka ditunjuk menjadi wakil PKI pada Kongres Komunis Internasional (Komintern) di Baku. Dalam kongres ini Tan Malaka menimbulkan kegegeran ketika ia menganjurkan agar golongan komunis di negeri-negeri jajahan bekerja sama dengan golongan agama (Islam), golongan petani dan borjuis kecil dalam perjuangan menentang kapitalisme dan kolonialisme. Menurutnya, di negeri-negeri jajahan hampir tidak terdapat buruh industri yang proletar, sebab di negeri jajahan hampir tidak ada industri.
Perkembangan PKI di Indonesia sangat mengecewakan Tan Malaka, sehingga ia keluar dari PKI dan Komintern dengan beberapa kawannya, Jamaluddin Tamin dan Subakat. Ia mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada bulan Juli 1927. Partai ini tidak bisa berkembang karena dikejar-kejar terus oleh polisi Belanda, sedangkan Tan Malaka sendiri berhasil lolos ke Cina dan menetap di Amoy. Dari Amoy ia pindah ke Singapura dan menjadi guru bahasa Inggris selama lima tahun (1937-1942). Karena pengembaraannya yang tidak pernah tertangkap oleh polisi Belanda, maka ia dijuluki “Pacar Merah Indonesia”.
Dalam melihat Revolusi Indonesia, Tan Malaka memiliki kesamaan dengan tokoh-tokoh perjuangan yang lain, seperti Soekarno, Cokroaminoto, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir. Namun demikian Tan Malaka mempunyai pandangan yang lebih luas dalam melihat revolusi Indonesia, yaitu tidak hanya berhenti pada pengusiran dan penghapusan kolonialisme dan imperialisme di bumi Indonesia, tetapi yang utama juga adalah menciptakan revolusi sikap mental bangsa untuk menopang ke arah kemajuan bangsa.
Tan Malaka melihat Revolusi Indonesia mempunyai dua tujuan utama, yaitu mengusir imperialisme Barat dan menentang sisa-sisa feodalisme. Kalau bangsa Indonesia berhasil menjalankan revolusi tersebut, maka akan tercapai masyarakat Indonesia yang merdeka dalam politik, ekonomi dan sosial budaya.
Tan Malaka juga menolak cara parlementer sebagai upaya mencapai kemerdekaan, karena menurutnya mempercayai jalan berparlementer dengan jalan merebut kursi dalam Dewan Rakyat serta meminta supaya diberikan kekuasaan politik, merupakan percobaan untung-untungan yang menyesatkan. Usaha ini hanya dapat dilakukan di dalam negeri jajahan yang mempunyai alat borjuis bumi putera dan menurutnya kerja yang jujur dengan penjajah Belanda di luar atau di dalam Dewan Rakyat merupakan pengkhianatan terhadap rakyat Indonesia[2].
Tan Malaka mati terbunuh oleh tentara negara yang ia dirikan pada usia 51 tahun, tepatnya pada tanggal 21 Februari 1949 di desa Selopanggung, Kediri Jawa Timur. Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.
b)     Pokok – pokok Pikiran Tan Malaka
Dari sekian banyak karya-karya yang di berhasil di tulis oleh Tan Malaka, secara garis besar pokok pikiran atau ajaran Tan Malaka dapat di bagi menjadi lima pokok bahasan[3].
a.       Ideologi
Dari beberapa buku yang ditulisnya sangat terlihat jelas bahwa Tan Malaka adalah penganut paham Marxisme. Revolusi Bolshevik di Rusia sangat penginspirasi perjuangan Tan malaka. Meskipun dari segi pemikiran banyak terpengaruh tokoh-tokoh komunis dunia seperti Karl Mark, Lenin, Stalin, Trotsky dll, Tan Malaka sadar betul bahwa tidak ada pikiran yang benar- benar sempurna. Ia juga menyadari bahwa paham komunis yang ia pelajari di luar negeri tidak sepenuhnya bisa di terapkan di Indonesia.
Kita akui penuh, bahwa aliran yang kita pakai ialah aliran Marx, yang berdasarkan pertentangan dalam hal sosial, politik dan ekonomi. Dengan pisau analisis yang bersifat pertentangan (dialektis) dua kelas dengan masyarakat (proletariat melawan borjuis) inilah kita coba menaksir arahnya politik dunia bergerak menuju ke depan[4].
semenjak hampir 20 tahun, berfilsafat Marxisme, yang dengan siasat Leninisme, menuju ke arah revolusi nasional dan revolusi sosial, ke masyarakat sosialistis...sampai ke masyarakat komunistis di seluruh dunia[5].

b.      Analisa Masyarakat, Tingkat dan Sifat Revolusi Indonesia
·         Analisa Masyarakat
Ketika banyak orang menganggap kerajaan Majapahit sebagai sebuah kerajaan yang besar dan memiliki kebudayaan yang maju, berbeda dengan Tan Malaka yang justru menganggap sebaliknya. Rakyat Majapahit sebenarnya tak pernah mengenal cita-cita pemerintahan negeri.
Berabad-abad pemerintah Majapahit tidak dengan, untuk dan kepunyaan rakyat. Perkataan “bagi Tuankulah ya, Junjunganku, kemerdekaan, kepunyaan dan nyawa patik”, pernah dan berulang-ulang diucapkan rakyat Indonesia terhadap raja-rajanya! Di sana tak ada Orachus, magna Charta dan tak ada pengetahuan yang diselidiki dengan betul-betul seperti yang dipergunakan Aristoteles, Pytagoras, Photomeus dll. Pengetahuan mendirikan gedung-gedung dan ilmu obat-obatan Indonesia masih dalam tingkatan percobaan. Tan Malaka menganggap keanehan Borobudur tak seaneh segitiga Phytagoras, sebab yang pertama berarti jalan mati, sedang yang kedua menuntun manusia menuju pelbagai macam pengetahuan. Di mana-manapun tak ada jejak (bekas-bekas) pengetahuan serta puncak kecerdasan pikiran[6].
Tan Malaka membagi masyarakat menjadi beberapa tahapan. Pertama, Bangsa Indonesia Asli. Sebelum pengaruh Agama dan penjajah masuk ke Indonesia, Indonesia telah memiliki kebudayaan sendiri. Masyarakat Indonesia pada masa itu berprofesi sebagai petani dan pelaut yang ulung. Bahkan Tan Malaka menyebutnya sebagai bajak laut yang sangat buas dan ditakuti. Ketika bangsa Barat dan Timur menyembah kepada pedang Jengis Khan  dan Timurleng serta lari ketakutan, waktu itu mereka bukan saja menentang, tetapi dapat pula mengundurkan laskar Mongolia. Bajak laut bernama Pakodato dari kerajaan Singha Phore di Semenanjung Tanah Melayu pada tahun 500 dapat menggeletarkan kerajaan Tiongkok dan Hindustan dengan angkatan armada serta pedangnya[7].
Kedua, Setelah pengaruh Hindu. Kesuburan tanah nusantara menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat perantauan untuk datang ke nusantara, tak terkecuali mereka pembawa ajaran Hindu-Budha. Setelah terpengaruh ajaran Hindu-Budha kebudayaan di nusantara bertambah baik dan cerdas. Bangsa yang lebih pintar itu mengajarkan pemerintahan negeri , teknik dan kebudayaan yang lebih sempurna. Penduduk pulau Jawa yang suka damai itu belum mempunyai pertentangan kelas dalam arti yang seluas-seluasnya, tidak memberi kesempatan kepada pengikut-pengikut agaama Hindu untuk mempertaruhkan pertentangan kepercayaan mereka, yakni Hiduisme yang aristokratis dan Budhisme yang lebih demokratis.
Ketajaman pertentangan agama oleh masyarakat Jawa yang tidak mengenal kelas itu dapat ditariknya. Banyak sedikitnya semua filsafat Hindu diterima oleh penduduk pulau Jawa yang asli. Siwa, Wisnu dan dewa-dewa agama Budha yang dalam negeri asalnya satu dan lainnya bermusuhan serta berpisah-pisah hidup bersama di pulau Jawa dengan damainya[8].
Ketiga, masa imperalisme. Bangsa Indonesia yang sejati belum mempunyai riwayat sendiri selain dari perbudakan. Riwayat bangsa Indonesia baru dimulai, setelah mereka terlepas dari tindasan imperialis.
·         Tingkat dan Sifat Revolusi Indonesia
Revolusi Indonesia sebagian kecil menentang sisa-sisa feodalisme dan sebagian yang terbesar menentang imperialisme Barat yang lalim ditambah lagi oleh dorongan kebencian bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang menggencet dan menghinakan mereka. Revolusi di Indonesia berangkat dari kesadaran masyarakat akan impian kemerdekaan di tanah airnya sendiri.
Riwayat revolusi di Indonesia mengalami pasang surut. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan pendapat tentang revolusi dari berbagai golongan masyarakat.


c.       Program Nasional
Pemikiran program nasional Tan Malaka tercantum dengan jelas dalam bukunya yang berjudul Naar de 'Republiek Indonesia' (Menuju Republik Indonesia) tahun 1925. Pebangunan di Indonesia meliputi beberapa bidang antara lain;
·         Ekonomi
1. Nasionalisasi pabrik-pabrik, dan tambang-tambang, seperti batubara, timah, minyak dan emas.
2. Nasionalisasi dari hutan-hutan dan perusahaan-perusahaan perkebunan-perkebunan yang modern seperti gula, karet, teh, kopi, kina, kelapa, indigo, tapioka.
3. Nasionalisasi dari transport dan perhubungan lain-lain.
4. Nasionalisasi bank-bank, vennootschap- vennootschap dan lain-lain perusahaan-perusahaan dagang yang besar-besar.
5. Elektrifikasi dan pendirian industri-industri baru dengan bantuan pemerintah seperti pabrik-pabrik tekstil dan mesin-mesin serta galangan-galangan kapal.
6. Pendirian koperasi-koperasi rakyat dengan pemberian kredit yang murah dan mudah oleh pemerintah.
7. Pemberian ternak dan alat-alat perlengkapan kepada kaum tani untuk perbaikan pertanian dan pendirian kebun-kebun percobaan pemerintah.
8. Emigrasi besar-besaran atas bea negara dari Jawa keluar.
9. Pembagian dari tanah yang tidak dikerjakan kepada tani tak berpunya dan tani miskin dengan pemberian bantuan keuangan untuk mengerjakannya.
10. Penghapusan sisa-sisa feodalisme dan tanah-tanah partikelir dan pembagian yang terakhir itu kepada tani tak berpunya atau tani miskin.

·         Politik
1. Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas.
2. Membentuk republik federasi dari pebagai pulau-pulau Indonesia.
3. Segera memanggil rapat nasional dan yang mewakili semua rakyat dan agama di Indonesia.
4. Segera memberi hak politik sepenuhnya kepada penduduk Indonesia baik laki-laki maupun wanita.

·         Social
1. Gaji minimum, kerja 7 jam dan perbaikan jam kerja dan penghidupan buruh.
2. Perlindungan kerja dengan pengakuan hak mogok di antara buruh.
3. Pembagian keuntungan bagi buruh di industri-industri besar.
4. Membentuk majelis-majelis buruh di Industri-industri besar.
5. Pemisahan gereja dan negara dan mengakui kemerdekaan agama.
6. Memberikan hak-hak sosial, ekonomi, dan politik kepada semua warga negara Indonesia baik laki-laki maupun wanita.
7. Menasionalisasi rumah-rumah besar dan membangun rumah-rumah baru dan distribusi rumah-rumah antara buruh negara.

·         Pendidikan
1. Wajib belajar bagi anak-anak semua warga negara Indonesia dengan Cuma-Cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama.
2. Menghapuskan sistem pelajaran sekarang dan menyusun sistem yang langsung berdasarkan atas kepentingan-kepentingan Indonesia yang sudah ada dan yang akan dibangun.
3. Memperbaiki dan memperbanyak jumlah sekolah-sekolah kejuruan, pertanian, dan perdagangan dan memperbaiki dan memperbanyak jumlah sekolah-sekolah bagi pegawai-pegawai tinggi di lapangan teknik dan administrasi.

·         Militer
1. Menghapuskan tentara imperialis dan mengadakan milisi rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia.
2. Menghapuskan kehidupan di kamp-kamp (tangsi-tangsi) dan semua UU yang merendahkan militer rendahan mengijinkan bertempat di kampung-kampung dan di rumah-rumah baru yang dibangun untuk mereka, perlakuan lebih baik dan mempertinggi gaji mereka.
3. Memberikan hak sepenuhnya untuk mengadakan organisasi dan rapat kepada militer Indonesia.

·         Gerakan Aksi
Inti dari program gerakan aksi yang di gagas oleh Tan Malaka adalah menuntut kebebasan dan hak untuk berdemonstrasi. , demonstrasi massa di seluruh Indonesia melawan penindasan ekonomi dan politik seperti : pajak pembebasan dengan segala tawanan politik dan pengembalian orang buangan politik, massa aksi yang mana harus diperkuat dengan pemogokan umum dan melawan pemerintah.
Menuntut hapusnya Volksraad, Raad van Indie dan Algemeene Secretaris dan pembentukan Majelis Nasional (National Assembly) dari mana nanti akan dipilih Badan Pelaksana yang bertanggung jawab kepara Majelis Nasional.
·         Strategi dan Taktik
Tan Malaka menjelaskan betapa pentingnya menyusun strategi dan taktik terlebih dahulu sebelum berperang melawan penjajah. Lebih baik mempunyai taksiran yang berdasarkan bukti kurang sempurna, dari tak mempunyai taksiran sama sekali.
Bukanlah sesuatu “sikap” mesti didasarkan atas suatu taksiran? Bukanlah pula sikap yang pasti, yang dijalankan serempak, walaupun berdasarkan bukti yang kurang cukup, lebih baik dari pada sikap laksana “pucuk pohon aur” yang terkenal ditiup angin kian kemari, walaupun sikap tadi berdasarkan bukti yang sempurna?
Tentulah sikap yang sempurna itu ialah sikap yang berdasarkan atas bukti yang telah sah serta cukup dan yang dijalankan serempak – serempak dengan teguh tetap. Kebenaran inipun tak perlu dibubuhi komentar[9].

·         Organisasi
Yang di maksud partai disini adalah partai Murba, partai yang dipimpin oleh Tan Malaka sendiri. Partai Murba di gunakan Tan Malaka sebagai media untuk mengumpulkan dan menggerakkan massa dalam mencapai tujuan revolusi.
Dalam memimpin organisasi (Partai Murba) Tan Malaka sangat menjunjung tinggi demokrasi. Setiap anggota memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat dan menymbangkan pikiran mereka. Untuk mewujudkan cita-cita organisasi dibutuhkan konsolidasi antar kader (anggota) dengan pemimpin mereka. Hal ini di pahami betul oleh Tan Malaka.

3.      KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dalam mempelajari pemikiran – pemikiran Tan Malaka melalui karya-karya yang dihasilkan, kita bias melihat sebuah sikap konsistensi antara pikiran dan perbuatan Tan Malaka. Tan Malaka tidak hanya mampu menjadi pemimpin gerakan revolusi. Namun lebih dari itu, ia sekaligus menjadi pejuang intelektual yang hasil pemikirannya bias kita pelajari sampai saat ini.
Jalan konfrontasi menjadi jalan politik pilihan Tan Malaka, Ia menolak untuk berunding dengan penjajah karena hal ini menurutnya sama dengan menyerah kepada penjajah. Revolusi menjadi satu-satunya jalan untuk mengusir penjajah dari Indonesia. Ketika rakyat Indonesia mampu bersatu, satu pikiran dan satu gerakan anti imperalisme, saat itu kemerdekaan mampu di raih 100%.


[1] Tan Malaka memiliki 23 nama samara, yaitu Elias Fuentes, Estahislau Rivera, dan Alisio Rivera yang ia gunakan di Filipina, Hasan Gozali di Singapura, Ossorio di Shanghai, Ong Song Lee yang digunakan 13 varian di Hong Kong, Tan Ming Sion di Burma, Legas Hussein, Ramli Hussein, Ilyas Hussein di Indonesia, Cheung Kun Tat dan Howard Law di Cina, lihat Tempo edisi kemerdekaan, „Bapak Republik yang Dilupakan Tempo, 17 Agustus 2008, hlm. 26.


[2] Biografi Singkat Tan Malaka, http://www.tuanguru.com/2011/12/biografi-singkat-tan-malaka.html, diakses pada 11 Juni 2013, Jam 19.05 WIB
[3]Tan Malaka, 1960., Pokok-pokok adjaran Tan Malaka (Murbaisme), Biro Pendidikan Kader D.P. Partai Murba, Jakarta, hal 1
[4] Tan Malaka, Thesis, dalam “Kata Pengantar”, http://www.marxists.org/indonesia diakses 31 Mei 2013, pada jam 1:19 WIB
[5] Ibid
[6] Tan Malaka, Massa Aksi,  http://www.marxists.org/indonesia diakses pada 31 Mei 2013 Jam 2:35 WIB
[7] ibid
[8] Ibid
[9] Tan malaka, Manifesto Jakarta, http://www.marxists.org/indonesia diakses pada 31 Mei 2013, Jam 3.15 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar