1. PENDAHULUAN
Ia, Tan Malaka[1],
orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin
menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Soekarno menyebutnya
"seseorang yang mahir dalam revolusi". Tapi hidupnya berakhir tragis
di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.
Ia merupakan tokoh pertama
yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia jauh sebelum negara
Indonesia Merdeka. Buku Naar de Republiek
Indonesia (Menuju Republik Indonesia) ditulis tahun 1925, jauh
lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan
pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju
Indonesia Merdeka (1933). Dua bukunya yaitu Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik
Indonesia-1925) dan Massa Actie (Aksi Massa-1926) menjadi pegangan bagi
tokoh-tokoh perintis kemerdekaan negeri ini. Tan malaka, sosok misterius dan legendaris
yang mempunyai pemikiran-pemikiran brilian tentang bangsa Indonesia sehingga
tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengenal Tan Malaka.
Tan Malaka dibesarkan dalam Islam yang religius
dalam adat tradisional Minangkabau yang kental, sehingga sebagai seorang
laki-laki dewasa ia harus merantau ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri.
Pola pikirnya berubah ketika dia merantau ke negeri Belanda untuk menimba Ilmu.
Saat terjadi Revolusi Bolshevik di Rusia, dia sangat terinspirasi akan
keberhasilan revolusi tersebut yang menggugah nuraninya untuk mengadakan
perlawanan terhadap Belanda.
Tan Malaka adalah satu dari sedikit anak bangsa yang
konsisten memegang prinsip ideologis yang ia yakini hingga akhir hayatnya.
Setelah kisah hidupnya dibungkam oleh Orde Baru, termasuk karya-karyanya
dilarang beredar, pada pascareformasi nama Tan Malaka bergaung kembali. Tan
Malaka pada masa perjuangan kemerdekaan sering disebut-sebut dari mulut ke
mulut, namun sulit untuk mengetahui persis keberadaannya, hingga relatif orang
hanya dapat mengetahui dari karya-karyanya. Hal itu karena Tan Malaka lebih
banyak menyamar dengan berganti-ganti nama dan berpindah tempat, sebagai
konsekuensi dari gerakannya yang tidak mau kompromi dengan penjajah -padahal
sebagian dari pejuang kemerdekaan melakukan kompromi- juga konsekuensi dari
gagasan-gagasan provokatif revolusionernya yang telah ia tuangkan dalam
karya-karyanya yang dibaca secara sembunyi-sembunyi.
Makalah berjudul “Menggali Pokok – pokok Pikiran Tan Malaka”
ini bertujuan untuk sedikit mengungkapkan perjuangan Tan Malaka melawan
penjajah pada masa itu. Tan Malaka dikenal sebagai pahlawan yang tidak hanya
berjuang scara fisik (tindakan) namun juga seorang pemikir kemerdekaan, hal ini
dapat di lihat dari banyaknya buku yang ditulis Tan Malaka semasa hidupnya.
Tan Malaka memilih jalan konfrontasi sebagai pilihan
perjuangannya, baginya negosiasi dengan penjajah sama artinya dengan menyerah
kepada penjajah. Tak mengherankan jika Tan pernah mengkritik dan berseberangan
dengan Soekarno ketika Soekarno menjalin kerjasama dengan pihak Jepang dengan
alasan apapun.
2.
PEMBAHASAN
a)
Biografi
Tan Malaka
berasal dari keluarga ternama di daerahnya. Ia lahir tanggal 2 Juni 1896 di
Nagari Pandang Gadang, Sumatera Barat. Ayahnya seorang mantri cacar. Keluarga
ayahnya memberinya nama Ibrahim (Sultan Sibrahim), dan dari pihak ibu menurut
adat dilekatkan padanya gelar warisan Datuk Tan Malaka. Sehingga nama
lengkapnya adalah Sultan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Setelah
tamat dari Sekolah Rakyat, Tan Malaka melanjutkan pendidikannya selama enam
tahun di Sekolah Guru Kweekschool yang terkenal dengan nama Sekolah Raja. Salah
seorang gurunya di Sekolah Raja, G.H. Horensma menganjurkan agar Tan Malaka
melanjutkan pendidikannya di Eropa. Atas jaminan Dominiscus, Kontalir di
Suliki, guru Belanda tersebut berhasil membawa Tan Malaka ke Amsterdam pada
tahun 1913. Tan Malaka dijadikan anak angkat Horensma.
Tan Malaka
kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru di Harrlem. Pada bulan Juli
1915, ia lulus dari ujian di sekolahnya. Namun dua kali mengikuti ujian akta
guru kepala, ia tak pernah berhasil lulus. Akhirnya tahun 1919 Tan Malaka
kembali ke Indonesia sebagai guru di perkebunan Sanemba, Deli.
Perjuangan
politik Tan Malaka pada dasarnya perjuangan melawan sistem, bukan memusuhi
masyarakat yang hidup di bawah sistem itu.
Pada tahun
1921 Tan Malaka meninggalkan Medan menuju ke Pulau Jawa untuk melanjutkan
cita-citanya, yakni mengajar bangsanya mengerti harga diri, sanggup berbuat dan
berani berjuang.3) Pertemuannya dengan tokoh
Komunis kenamaan, Semaun, membawanya ke pusat PKI di Semarang, di mana dia
diberi tugas memimpin sebuah sekolah yang diselenggarakan oleh partai itu.
Sewaktu ia
terlibat dalam pemogokan buruh di permulaan tahun 1922, dia ditangkap oleh
pemerintah kolonial dan dibuang ke luar negeri. Dalam pembuangan tersebut, Tan
Malaka memilih Belanda sebagai tempat memperjuangkan Indonesia dari jauh.
Kedatangannya
di negeri Belanda merubah pemikiran di kalangan mahasiswa Indonesia di sana.
Indische Vereeniging yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia, pada tahun 1923
diubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuan Indonesia merdeka
dan majalah yang tadinya bernama “Hindia Belanda” diganti menjadi “Indonesia
Merdeka”, kemungkinan ini sebagian pengaruh Tan Malaka.
Tanggal 5
Nopember 1922 Tan Malaka ditunjuk menjadi wakil PKI pada Kongres Komunis
Internasional (Komintern) di Baku. Dalam kongres ini Tan Malaka menimbulkan
kegegeran ketika ia menganjurkan agar golongan komunis di negeri-negeri jajahan
bekerja sama dengan golongan agama (Islam), golongan petani dan borjuis kecil
dalam perjuangan menentang kapitalisme dan kolonialisme. Menurutnya, di
negeri-negeri jajahan hampir tidak terdapat buruh industri yang proletar, sebab
di negeri jajahan hampir tidak ada industri.
Perkembangan
PKI di Indonesia sangat mengecewakan Tan Malaka, sehingga ia keluar dari PKI
dan Komintern dengan beberapa kawannya, Jamaluddin Tamin dan Subakat. Ia
mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada bulan Juli 1927.
Partai ini tidak bisa berkembang karena dikejar-kejar terus oleh polisi
Belanda, sedangkan Tan Malaka sendiri berhasil lolos ke Cina dan menetap di
Amoy. Dari Amoy ia pindah ke Singapura dan menjadi guru bahasa Inggris selama
lima tahun (1937-1942). Karena pengembaraannya yang tidak pernah tertangkap
oleh polisi Belanda, maka ia dijuluki “Pacar Merah Indonesia”.
Dalam
melihat Revolusi Indonesia, Tan Malaka memiliki kesamaan dengan tokoh-tokoh
perjuangan yang lain, seperti Soekarno, Cokroaminoto, Moh. Hatta dan Sutan
Syahrir. Namun demikian Tan Malaka mempunyai pandangan yang lebih luas dalam
melihat revolusi Indonesia, yaitu tidak hanya berhenti pada pengusiran dan
penghapusan kolonialisme dan imperialisme di bumi Indonesia, tetapi yang utama
juga adalah menciptakan revolusi sikap mental bangsa untuk menopang ke arah
kemajuan bangsa.
Tan Malaka
melihat Revolusi Indonesia mempunyai dua tujuan utama, yaitu mengusir
imperialisme Barat dan menentang sisa-sisa feodalisme. Kalau bangsa Indonesia
berhasil menjalankan revolusi tersebut, maka akan tercapai masyarakat Indonesia
yang merdeka dalam politik, ekonomi dan sosial budaya.
Tan Malaka
juga menolak cara parlementer sebagai upaya mencapai kemerdekaan, karena menurutnya
mempercayai jalan berparlementer dengan jalan merebut kursi dalam Dewan Rakyat
serta meminta supaya diberikan kekuasaan politik, merupakan percobaan
untung-untungan yang menyesatkan. Usaha ini hanya dapat dilakukan di dalam
negeri jajahan yang mempunyai alat borjuis bumi putera dan menurutnya kerja
yang jujur dengan penjajah Belanda di luar atau di dalam Dewan Rakyat merupakan
pengkhianatan terhadap rakyat Indonesia[2].
Tan Malaka mati
terbunuh oleh tentara negara yang ia dirikan pada usia 51 tahun, tepatnya pada
tanggal 21 Februari 1949 di desa Selopanggung, Kediri Jawa Timur. Tan
Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari
Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.
b) Pokok – pokok Pikiran Tan Malaka
Dari sekian banyak karya-karya yang di berhasil di
tulis oleh Tan Malaka, secara garis besar pokok pikiran atau ajaran Tan Malaka
dapat di bagi menjadi lima pokok bahasan[3].
a.
Ideologi
Dari beberapa buku yang ditulisnya sangat terlihat
jelas bahwa Tan Malaka adalah penganut paham Marxisme. Revolusi Bolshevik di Rusia sangat penginspirasi perjuangan Tan malaka. Meskipun
dari segi pemikiran banyak terpengaruh tokoh-tokoh komunis dunia seperti Karl
Mark, Lenin, Stalin, Trotsky dll, Tan Malaka sadar betul bahwa tidak ada
pikiran yang benar- benar sempurna. Ia juga menyadari bahwa paham komunis yang
ia pelajari di luar negeri tidak sepenuhnya bisa di terapkan di Indonesia.
“Kita
akui penuh, bahwa aliran yang kita pakai ialah aliran Marx, yang berdasarkan
pertentangan dalam hal sosial, politik dan ekonomi. Dengan pisau analisis yang
bersifat pertentangan (dialektis) dua kelas dengan masyarakat (proletariat
melawan borjuis) inilah kita coba menaksir arahnya politik dunia bergerak
menuju ke depan”[4].
“semenjak
hampir 20 tahun, berfilsafat Marxisme, yang dengan siasat Leninisme, menuju ke
arah revolusi nasional dan revolusi sosial, ke masyarakat sosialistis...sampai
ke masyarakat komunistis di seluruh dunia”[5].
b.
Analisa Masyarakat, Tingkat dan Sifat Revolusi
Indonesia
·
Analisa Masyarakat
Ketika banyak orang menganggap kerajaan Majapahit
sebagai sebuah kerajaan yang besar dan memiliki kebudayaan yang maju, berbeda
dengan Tan Malaka yang justru menganggap sebaliknya. Rakyat Majapahit
sebenarnya tak pernah mengenal cita-cita pemerintahan negeri.
Berabad-abad
pemerintah Majapahit
tidak dengan, untuk dan kepunyaan rakyat. Perkataan “bagi Tuankulah ya,
Junjunganku, kemerdekaan, kepunyaan dan nyawa patik”, pernah dan berulang-ulang
diucapkan rakyat Indonesia terhadap raja-rajanya! Di sana tak ada Orachus,
magna Charta dan tak ada pengetahuan yang diselidiki dengan betul-betul seperti
yang dipergunakan Aristoteles, Pytagoras, Photomeus dll. Pengetahuan mendirikan
gedung-gedung dan ilmu obat-obatan Indonesia
masih dalam tingkatan percobaan. Tan Malaka menganggap keanehan Borobudur tak seaneh
segitiga Phytagoras, sebab yang pertama berarti jalan mati, sedang yang kedua
menuntun manusia menuju pelbagai macam pengetahuan. Di mana-manapun tak ada
jejak (bekas-bekas) pengetahuan serta puncak kecerdasan pikiran[6].
Tan Malaka membagi masyarakat menjadi beberapa
tahapan. Pertama, Bangsa Indonesia
Asli. Sebelum pengaruh Agama dan penjajah masuk ke Indonesia, Indonesia telah
memiliki kebudayaan sendiri. Masyarakat Indonesia pada masa itu berprofesi
sebagai petani dan pelaut yang ulung. Bahkan Tan Malaka menyebutnya sebagai
bajak laut yang sangat buas dan ditakuti. Ketika
bangsa Barat dan Timur menyembah kepada pedang Jengis Khan dan Timurleng
serta lari ketakutan, waktu itu mereka bukan saja menentang, tetapi dapat pula
mengundurkan laskar Mongolia. Bajak laut bernama Pakodato dari kerajaan Singha
Phore di Semenanjung Tanah Melayu pada tahun 500 dapat menggeletarkan kerajaan
Tiongkok dan Hindustan dengan angkatan armada serta pedangnya[7].
Kedua,
Setelah pengaruh Hindu. Kesuburan tanah nusantara menjadi daya tarik tersendiri
bagi masyarakat perantauan untuk datang ke nusantara, tak terkecuali mereka
pembawa ajaran Hindu-Budha. Setelah terpengaruh ajaran Hindu-Budha kebudayaan
di nusantara bertambah baik dan cerdas. Bangsa yang
lebih pintar itu mengajarkan pemerintahan negeri , teknik dan kebudayaan yang
lebih sempurna. Penduduk pulau Jawa yang suka damai itu belum mempunyai
pertentangan kelas dalam arti yang seluas-seluasnya, tidak memberi kesempatan
kepada pengikut-pengikut agaama Hindu untuk mempertaruhkan pertentangan
kepercayaan mereka, yakni Hiduisme yang aristokratis dan Budhisme yang lebih
demokratis.
Ketajaman pertentangan
agama oleh masyarakat Jawa yang tidak mengenal kelas itu dapat ditariknya.
Banyak sedikitnya semua filsafat Hindu diterima oleh penduduk pulau Jawa yang
asli. Siwa, Wisnu dan dewa-dewa agama Budha yang dalam negeri asalnya satu dan
lainnya bermusuhan serta berpisah-pisah hidup bersama di pulau Jawa dengan
damainya[8].
Ketiga, masa
imperalisme. Bangsa
Indonesia yang sejati belum mempunyai riwayat sendiri selain dari perbudakan.
Riwayat bangsa Indonesia baru dimulai, setelah mereka terlepas dari tindasan
imperialis.
·
Tingkat dan Sifat Revolusi Indonesia
Revolusi Indonesia sebagian kecil menentang sisa-sisa feodalisme dan
sebagian yang terbesar menentang imperialisme Barat yang lalim ditambah
lagi oleh dorongan kebencian bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang menggencet
dan menghinakan mereka. Revolusi di Indonesia berangkat dari kesadaran
masyarakat akan impian kemerdekaan di tanah airnya sendiri.
Riwayat revolusi di Indonesia mengalami pasang surut. Hal ini
dipengaruhi oleh perbedaan pendapat tentang revolusi dari berbagai golongan
masyarakat.
c.
Program Nasional
Pemikiran program nasional Tan Malaka tercantum dengan
jelas dalam bukunya yang berjudul Naar de 'Republiek Indonesia' (Menuju Republik Indonesia) tahun 1925. Pebangunan
di Indonesia meliputi beberapa bidang antara lain;
·
Ekonomi
1. Nasionalisasi
pabrik-pabrik, dan tambang-tambang, seperti batubara, timah, minyak dan emas.
2. Nasionalisasi dari
hutan-hutan dan perusahaan-perusahaan perkebunan-perkebunan yang modern seperti
gula, karet, teh, kopi, kina, kelapa, indigo, tapioka.
3. Nasionalisasi dari
transport dan perhubungan lain-lain.
4. Nasionalisasi bank-bank,
vennootschap- vennootschap dan lain-lain perusahaan-perusahaan dagang yang
besar-besar.
5. Elektrifikasi dan
pendirian industri-industri baru dengan bantuan pemerintah seperti pabrik-pabrik
tekstil dan mesin-mesin serta galangan-galangan kapal.
6. Pendirian
koperasi-koperasi rakyat dengan pemberian kredit yang murah dan mudah oleh
pemerintah.
7. Pemberian ternak dan
alat-alat perlengkapan kepada kaum tani untuk perbaikan pertanian dan pendirian
kebun-kebun percobaan pemerintah.
8. Emigrasi besar-besaran
atas bea negara dari Jawa keluar.
9. Pembagian dari tanah yang
tidak dikerjakan kepada tani tak berpunya dan tani miskin dengan pemberian
bantuan keuangan untuk mengerjakannya.
10. Penghapusan sisa-sisa
feodalisme dan tanah-tanah partikelir dan pembagian yang terakhir itu kepada
tani tak berpunya atau tani miskin.
·
Politik
1. Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak
terbatas.
2. Membentuk republik federasi dari pebagai
pulau-pulau Indonesia.
3. Segera memanggil rapat nasional dan yang mewakili
semua rakyat dan agama di Indonesia.
4. Segera memberi hak politik sepenuhnya kepada
penduduk Indonesia baik laki-laki maupun wanita.
·
Social
1. Gaji minimum, kerja 7 jam dan perbaikan jam kerja
dan penghidupan buruh.
2. Perlindungan kerja dengan pengakuan hak mogok di
antara buruh.
3. Pembagian keuntungan bagi buruh di
industri-industri besar.
4. Membentuk majelis-majelis buruh di
Industri-industri besar.
5. Pemisahan gereja dan negara dan mengakui
kemerdekaan agama.
6. Memberikan hak-hak sosial, ekonomi, dan politik
kepada semua warga negara Indonesia baik laki-laki maupun wanita.
7. Menasionalisasi rumah-rumah besar dan membangun
rumah-rumah baru dan distribusi rumah-rumah antara buruh negara.
·
Pendidikan
1. Wajib belajar bagi anak-anak semua warga negara Indonesia dengan
Cuma-Cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar
dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama.
2. Menghapuskan sistem pelajaran sekarang
dan menyusun sistem yang langsung berdasarkan atas kepentingan-kepentingan
Indonesia yang sudah ada dan yang akan dibangun.
3. Memperbaiki dan memperbanyak jumlah
sekolah-sekolah kejuruan, pertanian, dan perdagangan dan memperbaiki dan
memperbanyak jumlah sekolah-sekolah bagi pegawai-pegawai tinggi di lapangan
teknik dan administrasi.
·
Militer
1. Menghapuskan tentara imperialis dan mengadakan
milisi rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia.
2. Menghapuskan kehidupan di kamp-kamp (tangsi-tangsi)
dan semua UU yang merendahkan militer rendahan mengijinkan bertempat di
kampung-kampung dan di rumah-rumah baru yang dibangun untuk mereka, perlakuan
lebih baik dan mempertinggi gaji mereka.
3. Memberikan hak sepenuhnya untuk mengadakan
organisasi dan rapat kepada militer Indonesia.
·
Gerakan Aksi
Inti dari program gerakan aksi yang di gagas
oleh Tan Malaka adalah menuntut kebebasan dan hak untuk berdemonstrasi. , demonstrasi massa di seluruh
Indonesia melawan penindasan ekonomi dan politik seperti : pajak pembebasan
dengan segala tawanan politik dan pengembalian orang buangan politik, massa
aksi yang mana harus diperkuat dengan pemogokan umum dan melawan pemerintah.
Menuntut hapusnya Volksraad, Raad van Indie dan Algemeene
Secretaris dan pembentukan Majelis Nasional (National Assembly) dari
mana nanti akan dipilih Badan Pelaksana yang bertanggung jawab kepara Majelis
Nasional.
·
Strategi dan Taktik
Tan Malaka menjelaskan betapa pentingnya menyusun
strategi dan taktik terlebih dahulu sebelum berperang melawan penjajah. Lebih
baik mempunyai taksiran yang berdasarkan bukti kurang sempurna, dari tak
mempunyai taksiran sama sekali.
Bukanlah sesuatu
“sikap” mesti didasarkan atas suatu taksiran? Bukanlah pula sikap yang pasti,
yang dijalankan serempak, walaupun berdasarkan bukti yang kurang cukup, lebih
baik dari pada sikap laksana “pucuk pohon aur” yang terkenal ditiup angin kian
kemari, walaupun sikap tadi berdasarkan bukti yang sempurna?
Tentulah sikap yang
sempurna itu ialah sikap yang berdasarkan atas bukti yang telah sah serta cukup
dan yang dijalankan serempak – serempak dengan teguh tetap. Kebenaran inipun
tak perlu dibubuhi komentar[9].
·
Organisasi
Yang di maksud partai disini adalah partai Murba,
partai yang dipimpin oleh Tan Malaka sendiri. Partai Murba di gunakan Tan
Malaka sebagai media untuk mengumpulkan dan menggerakkan massa dalam mencapai
tujuan revolusi.
Dalam memimpin organisasi (Partai Murba) Tan Malaka
sangat menjunjung tinggi demokrasi. Setiap anggota memiliki hak untuk
mengeluarkan pendapat dan menymbangkan pikiran mereka. Untuk mewujudkan
cita-cita organisasi dibutuhkan konsolidasi antar kader (anggota) dengan
pemimpin mereka. Hal ini di pahami betul oleh Tan Malaka.
3. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dalam
mempelajari pemikiran – pemikiran Tan Malaka melalui karya-karya yang
dihasilkan, kita bias melihat sebuah sikap konsistensi antara pikiran dan
perbuatan Tan Malaka. Tan Malaka tidak hanya mampu menjadi pemimpin gerakan
revolusi. Namun lebih dari itu, ia sekaligus menjadi pejuang intelektual yang
hasil pemikirannya bias kita pelajari sampai saat ini.
Jalan
konfrontasi menjadi jalan politik pilihan Tan Malaka, Ia menolak untuk
berunding dengan penjajah karena hal ini menurutnya sama dengan menyerah kepada
penjajah. Revolusi menjadi satu-satunya jalan untuk mengusir penjajah dari
Indonesia. Ketika rakyat Indonesia mampu bersatu, satu pikiran dan satu gerakan
anti imperalisme, saat itu kemerdekaan mampu di raih 100%.
[1] Tan Malaka memiliki 23 nama samara, yaitu Elias
Fuentes, Estahislau Rivera, dan Alisio Rivera yang ia gunakan di Filipina,
Hasan Gozali di Singapura, Ossorio di Shanghai, Ong Song Lee yang digunakan 13
varian di Hong Kong, Tan Ming Sion di Burma, Legas Hussein, Ramli Hussein,
Ilyas Hussein di Indonesia, Cheung Kun Tat dan Howard Law di Cina, lihat Tempo
edisi kemerdekaan, „Bapak Republik yang Dilupakan‟ Tempo, 17 Agustus
2008, hlm. 26.
[2] Biografi Singkat Tan
Malaka, http://www.tuanguru.com/2011/12/biografi-singkat-tan-malaka.html, diakses pada 11 Juni 2013, Jam 19.05 WIB
[3]Tan Malaka, 1960., Pokok-pokok adjaran Tan Malaka (Murbaisme), Biro Pendidikan Kader
D.P. Partai Murba, Jakarta, hal 1
[4] Tan Malaka, Thesis, dalam “Kata Pengantar”, http://www.marxists.org/indonesia diakses 31 Mei 2013, pada jam 1:19 WIB
[9] Tan malaka, Manifesto Jakarta, http://www.marxists.org/indonesia diakses pada 31 Mei 2013, Jam 3.15 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar