Selasa, 08 Oktober 2013

PEJUANG DARI JOMBANG




Oleh:
M. Al Mustafad




Abstrak
KH. Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh politik yang berperan penting dalam pembangunan Indonesia. Banyak sekali jasa yang telah diberikan oleh Beliau. Sehingga, Beliau diangkat sebagai seorang pahlawan. Beberapa diantara Peran KH. Abdul Wahid Hasyim semasa hidupnya ketika berkarir di bidang politik adalah meletakkan fondasi yang kuat pada kementrian dengan membentuk RIS pada tahun 1949. Dan tahun 1952 Beliau memprakarsai berdirinya Liga Muslim Indonesia.



Kata Kunci: Tokoh Politik, RIS, Liga Muslim Indonesia




A.  BIOGRAFI KH. ABDUL WAHID HASYIM
KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra ke-5 dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqoh binti kiai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari jumat legi, Rabiul awal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 di Jombang, Jawa Timur.
Wahid Hasyim adalah salah seorang dari 10 keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Islam Demak. Sedangkan, dari pihak ibu, silsilah bersambung hingga Ki Ageng Tarub. Bila diruntut lebih jauh, kedua silsilah itu bertemu pada titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan Mataram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan “Lembu Peteng”.[1]
Beliau mempunyai otak yang sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak Beliau sudah pandai membaca Al-Qur’an, dan bahkan sudah khatam Al-Qur’an saat usia 7 tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Beliau juga belajar di bangku Madrasah Salafiyyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun setamat dari Madrasah, Beliau sudah mengajar adik-adik dan anak-anak sekolah seusianya. Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia-Belanda. Beliau lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di Madrasah beliau juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Pada usia 13 tahun beliau mondok di pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana Beliau hanya bertahan selama sebulan. Dari Siwalan Beliau pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi beliau di pesantren ini mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid Hasyim  tidak meneruskan belajar di pesantren lain, tetapi memilih tinggal dirumah.
Pada tahun 1932, ketika Beliau berusia 18 tahun, beliau dikirim ke Mekkah di temani sepupunya Muhammad Ilyas, selain untuk menunaikan ibadah haji juga bertujuan untuk memperdalam ilmu agama. Di tanah suci beliau belajar selama dua tahun.
Pada usia 25 tahun beliau menikah dengan solichah binti KH. Bisri Syansuri yang pada waktu itu masih berusia 15 tahun. Pasangan ini dikaruniai enam putra yaitu Abdurrohman Ad-Dakhil (mantan presiden RI), Aisyah Hamid Baidlowi (ketua umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Sholahudin Al Ayyubi (pengasuh Pon-pes Tebuireng, jombang), Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, Hasyim Wahid.
Tanggal 19 April 1953 beliau wafat di RS Boromeus di bandung. Karena mengalami kecelakaan mobil yang terjadi di Cimahi pada saat perjalanan menuju ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU.[2] Beliau adalah pahlawan Indonesia.

B.  KIPRAH KH. ABDUL WAHID HASYIM DALAM DUNIA POLITIK
Pada usia 22 tahun (1936), KH.Abdul  Wahid Hasyim mulai terjun di dunia politik. Bersama kawan-kawan beliau, beliau gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa indonesia terbebas dari penjajah. Semua itu di awali dengan berdirinya sebuah organisasi Ikatan Pelajar-Pelajar Islam (IKPI) dengan KH. Abdul Wahid Hasyim sebagai ketuanya.
1.    Bergabung Dengan NU
Sepulangnya dari Mekkah, Wahid Hasyim tidak langsung terlibat secara langsung dengan berbagai organisasi, akan tetapi dia selalu mengamati kurang lebih 4 tahun segala bentuk pergerakan baik pergerakan yang dipimpin oleh kelompok nasionalis, modernis, dan tradisionalis. Setelah cukup lama melakukan pergulatan pemikiran Wahid Hasyim akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU).  
Sejak aktif di NU Cukir, Jombang, pada tahun 1938 hingga saat wafat pada 19 April 1953, Wahid Hasyim terlibat aktif dalam kehidupan politik. Walaupun sebenarnya NU adalah organisasi dakwah dan pendidikan islam, namun situasi saat itu yang dipenuhi pergerakan nasional menjadikan seluruh organisasi kemasyarakatan turut aktif di dalamnya. Apalagi NU adalah organisasi terbesar di tanah air saat itu.
Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Pada tahun ini Beliau ditunjuk sebagai sekretaris pengurus ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya Beliau dipilih sebagai anggota pengurus besar NU di wilayah Surabaya. Disini karirnya terus meningkat sampai pada tingkat Departemen Pendidikan Ma’arif NU pada tahun 1940. Setelah NU berubah menjadi partai politik Beliau pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.[3]
2.    Berjuang Melawan Belanda
Kesadaran berbangsa dan bernegara Wahid hasyim sudah tumbuh dalam dirinya sebelum  melaksanakan ibadah haji atau belajar di Arabia, dan semakin kuat sepulangnya kembali ke Indonesia pada tahun 1934. Meskipun informasi tentang tumbuhnya jiwa kebangsaan Wahid Hasyim sangat sedikit, akan tetapi masih dapat di telusuri. Sejak dia dapat membaca dan menulis huruf latin, Beliau banyak membaca ide-ide kebangsaan dan perjuangan merebut kemerdekaan dari berbagai buku, surat kabar dan majalah yang di pinjam atau di belinya. Awal tahun 1929 dalam sebuah artikel yang di tulisnya, Beliau menyatakan: “Negara-negara Barat yang sudah tercerai berai semenjak Perang Dunia I tidak dapat menjadi penjamin atas kemerdekaan bangsa-bangsa Asia jika bangsa Asia tidak menyiapkan sendiri untuk merebut kemerdekaannya sendiri.”[4]
Sebagai salah satu pemimpin NU, Wahid Hasyim, bersama-sama dengan koleganya, memprotes dan meminta pemerintah kolonial untuk mencabut Guru Ordonantie 1925 (Teacher Ordonance 1925). Peraturan ini cukup efektif sebagai alat bagi pemerintah Belanda untuk mengontrol pendidikan islam. Peraturan ini dipandang oleh kalangan umat islam sebagai usaha membatasi pendidikan islam. Dalam pandangan umat islam, protes tersebut sebagai upaya menghentikan segala bentuk kesewenangan Belanda dengan harapan mereka bebas sebagai penduduk mayoritas dalam melaksanakan pendidikan agamanya, bahkan mereka khususnya kaum tradisional memandang bahwa peraturan tersebut sebagai ganjalan dalam melaksanakan ajaran agama mereka.
Pada akhirnya segala bentuk protes ini ditanggapi oleh Belanda dengan adanya pernyataan dari Belanda bahwa segala bentuk kebijakan pemerintah kolonial akan netral terhadap semua agama. Aktivitas politik Wahid Hasyim dapat dilihat dari komitmennya di MIAI (Majelis al-Islam al-A’la Indonesia), sebuah federasi organisasi keagamaan (Islam) yang didirikan pada tahun 1937. Organisasi ini dibentuk untuk menjawab segala isu yang berkaitan dengan persoalan yang dihadapi muslim Indonesia dan perjuangan memperebutkan kemerdekaan.[5]
Puncak dari aktifitas MIAI di bawah pimpinan Wahid Hasyim adalah bersama-sama dengan GAPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan PVPN (Asosiasi Pegawai Pemerintah) mendirikan Kongres Rakyat Indonesia sebagai komite nasional yang menuntut kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mendirikan Indonesia Berparlemen.[6] Akan tetapi pada waktu itu, pemerintah Belanda memberikan respon bahwa pembentukan konstitusi di Indonesia baru dapat terjadi setelah kemerdekaan Belanda dari Jerman, dan ketika seluruh hubungan antara Belanda dan Indonesia diperbaharui dengan ide berdirinya negara federasi di bawah pemerintah Belanda. Sangat mengejutkan bahwa pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia nampaknya menerima jawaban pemerintah Belanda tersebut dan mereka cukup pasif untuk mempertahankan tanah airnya ketika Jepang mengambil kekuasaan pada tahun 1942. Sikap mereka nampaknya merefleksikan harapan bahwa Jepang dapat mengalahkan Belanda, Indonesia dengan sendirinya akan merdeka.
3.    Masa Kekuasaan Jepang
Setelah komandan pasukan Belanda di Jawa, Letnan Jendral Teer Porten, atas nama seluruh pasukan secara resmi menyerah kepada komandan pasukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, militer Jepang berkuasa penuh di Indonesia. Bangsa Jepang menyadari pentingnya mempunyai sebuah federasi yang memayungi segala bentuk organisasi keagamaan (Islam) sehingga seluruh pemimpin umat Islam berkumpul dan dapat di satukan, yang dengan demikian umat Islam lebih mudah diperdayakan guna membantu keinginan bangsa Jepang, untuk itu bangsa Jepang memperbolehkan kembali berdirinya MIAI pada tahun 1942, akan tetapi belum genap setahun, federasi ini dilarang dan kemudian diganti dengan Masjumi (Majelis Sjuro Muslim Indonesia) yang didirikan pada tanggal 24 Oktober 1943. Masjumi adalah federasi umat islam yang bergerak di luar masalah perpolitikan (non-polical association). Sebagai figur utama pemimpinya adalah KH. Hasyim Asy’ari, namun kedudukan ini hanya sebatas penghormatan karena Hasyim Asy’ari tetap tinggal di pesantrennya, dan membiarkan anaknya KH. Wahid hasyim sebagai ketua pelaksana.
Wahid Hasyim menyadari bahwa tujuan di balik dibentuknya Masjumi adalah untuk melayani segala bentuk propaganda bangsa Jepang, yang bertujuan memobilisasi segala bentuk bantuan untuk bangsa Jepang baik itu berupa tenaga kerja sukarela maupun makanan. Oleh karena itu, Wahid Hasyim mengundang pemuda Muslim, di antaranya M. Natsir, Harsono Tjokroaminoto,Prawoto Mangkusumo dan Zaenal Arifin, untuk menggunakan kesempatan dalam menyiapkan bangsa Indonesia baik secara fisik dan mental guna melawan bangsa Jepang.[7]
Pada saat yang sama pula, Peta (Pembela Tanah Air) dan Heiho dibentuk di Jawa dan Madura dengan maksud memberikan bantuan pasukan perang kepada bangsa Jepang guna melawan sertangan pasukan sekutu. Organisasi ini, akhirnya memberikan bekal latihan kemiliteran pada kader bangsa yang bermanfaat pada masa revolusi. Menangkap ide atau keinginan tersebut, Wahid Hasyim meminta ijin pada Jepang untuk membentuk pasukan santri Muslim yang di beri nama Hizbullah. Kesempatan ini sebenarnya akan digunakan untuk mempersiapkan santri Muslim melawan bangsa Jepang sendiri, sebagaimana dinyatakan Saifuddin Zuhri, “Wahid Hasyim sudah memikirkan sebuah strategi bahwa ide adanya training kemiliteran bagi santri merupakan bagian dari persiapan untuk melawan bangsa Jepang.”
Salah satu bentuk strategi lainnya yang diharapkan bangsa Jepang untuk memperoleh simpati dari bangsa Indonesia khususnya umat islam, adalah pembentukan Shumubu, atau Kantor Kementrian Agama yang bertugas mengamati semua urusan keagamaan dan umat Islam. Kantor ini di kepalai oleh Horie Chozo, seorang arsitek yang membidangi usaha pemerintah penjajahan Jepang di Jawa. Dalam beberapa bulan, pegawai Shumubu semuanya berasal dari bangsa Jepang, sampai bangsa Indonesia dan komunitas orang Arab dari kantor Biro Urusan Indonesia (Bureau for Indonesia Affairs) di bawah kekuasaan Belanda diperkenankan bekerja di sana. Meskipun KH. Hasyim Asy’ari diberi tanggung jawab sebagai kepala, dalam prakteknya, Beliau mendelegasikan tugas-tugasnya kepada Wahid Hasyim. Wahid Hasyim-lah menurut Boland, yang meletakkan dasar-dasar bagi berdirinya Kementrian Agama, seperti mengambil tugas sebelum dikerjakan oleh Departemen Dalam Negeri, Kehakiman dan Pendidikan, dan membentuk kantor-kantor agama di wilayah-wilayah di setiap karesidenan.[8]
Ketika BPUPKI (Badan Penyeledik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) didirikan, Wahid Hasyim terpilih sebagai salah satu anggota. Wahid Hasyim juga masuk dalam Panitia Kecil yang sering di sebut Tim Sembilan yang beranggotakan Sokarno, Moh Hatta, A.A. Maramis, Abikoersno Tjokro Soejoso, Abdul Kahar Muzakkir, h. Agus Salim, Ahmad Soebardja, Moh Yamin, dan Abdul Wahid Hasyim. Hasil diskusi mereka adalah ditanda tanganinya Jakarta Charter (Piagam Jakarta) pada tanggal 22 Juni 1945.

4.    Perjuangan Setelah Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan dan terpilihnya Presiden dan wakil Presiden Soekarno – Hatta, maka segeralah dibentuk kabinet pemerintahan. Di sinilah Wahid Hasyim memulai karir perjuangannya sebagai Menteri Negara (2 September 1945 – 14 November 1945). Jabatan publik yang beliau emban bertambah ketika Kyai Mahfudz Sidik selaku Ketua Tanfidziyah NU meninggal pada tahun 1946, sehingga Kyai Wahid Hasyim menggantikan kedudukan beliau. Setahun kemudian Ayahanda meninggal, sehingga kedudukan ayahnya sebagai Direktur Pesantren Tebuireng juga berpindah kepada beliau. Dari tahun 1949 sampai tahun 1952 Beliau ditunjuk menjadi Menteri Agama. Wahid Hasyim menjabat Menteri Agama di mulai pada Desember 1949-September 1950, kabinet Natsir September 1950-April 1951 dan kemudian kabinet Sukiman April 1951-April 1952.
Meski kementrian agama telah didirikan sejak 3 Januari 1946, dapat dikatakan bahwa Wahid Hasyim –lah yang meletakkan pondasi kuat kementrian ini sehingga mampu berkembang seperti sekarang ini. Dibuktikan dengan salah satu jas Wahid Hasyim yang terbesar dalam Kementrian Agama setelah kabinet RIS terbentuk pada 20 Desember 1949 adalah mengadakan konferensi besar di Yogyakarta pada 14-18 April 1950. Dalam konferensi tersebut, diupayakan bagaimana mempersatukan kembeli kementrian, departemen dan jawatan-jawatan agama dan negara-negara bagian yang didirikan oleh Belanda di wilayah Indonesia.
Sementara itu juga, pada tahu 1948 sampai 1950 diadakan restorasi, yaitu menyusun kembali pengorganisasian kerja, baik itu di pusat maupun di daerah. Hal ini dilakukan karena kondisi Indonesia diserang Belanda dan ada pemberontakan komunis tahun 1948.
Melalui SK Nomor : AII/2/2175 tertanggal 7 Juni 1950 yang ditandatangani Wahid Hasyim dan Faqih Usman, dicapailah kesepakatan untuk menyatukan kedua kementrian menjadi satu. Meski status pemerintahan RI di Yogyakarta adalah bagian dari RIS, keberadaan Mentri Agama di sana dijadikan modal dasar untuk pengembangan kementrian ini yang berkantor pusat di Jakarta, dengan bagian-bagian tertentu tetap di Yogyakarta, seperti jawatan (setingkat Direktorat) Urusan Agama, Jawatan Pendidikan Agama dan Jawatan Penerangan Agama.
Dengan penyatuan kementrian agama tersebut, Wahid Hasyim mulai melakukan restrukturisasi kementrian ini baik struktur organisasi dan lapangan pekerjaan. Melalui peraturan Pemerintah No. 8 Th. 1950 yang memperbaiki PP No. 33 Th. 1949, Wahid Hasyim merumuskan bidang garapan kementrian ini yang terdiri dari 12 poin.[9]
Usaha Wahid Hasyim memantapkan eksistensi Kementrian Agama sangat berat. Dalam pidato konferensi antara Kementrian Agama dan pengurus-pengurus besar organisasi islam non-politik, November 1951, Wahid Hasyim menyampaikan bahwa ada tiga kelompok masyarakat yang mempunyai persepsi berbeda terhadap keberadaan Kementrian Agama: Pertama, mereka yang tidak senang atas keberadaan Kementrian Agama karena dianggap akan mengganggu prinsip-prinsip mereka. Kedua, mereka yang antusias menyambut kementiran ini, bahkan cenderung menyandarkan harapan yang tinggi. Ketiga, mereka yang menyambut baik tapi khawatir bahwa kementrian ini akan mengganggu mereka.
Selain memperhatikan kondisi politik nasional, Wahid Hasyim juga mengamati perkembangan politik global (dunia). Perkembangan itu dapat diakses oleh Beliau karena pergaulannya yang luas, juga karena Beliau suka membaca dan berlangganan majalah, baik dari Eropa maupun Timur Tengah. Hal ini dibuktikan ketika mengulas bagaimana dengan kematian Stalin dikaitkan dengan kondisi kekinian umat Islam saat itu, khususnya umat Islam di Indonesia.
Sejak kematian Stalin pada 5 Maret 1953, dari sinilah dimulai Perang Dingin di dunia, antara Rusia dan sekutunya melawan Amerika dengan sekutunya pula. Selain mengamati perkembangan politik di Rusia, Wahid Hasyim juga mengamati perkembangan politik di Timur Tengah. Pengamatan itu dibuktikan dalam salah satu caramahnya di tahun 1952 yang berjudul “Di Belakang Layar Perebutan Kekuasaan Jendral Najib di Mesir”. Pada tahun itu juga, saat kongres NU ke 19 di Palembang tanggal 26 April-1 Mei, Wahid Hasyim yang bertindak sebagai pimpinan rapat, memutuskan NU keluar dari Masyumi dan mendeklarasikan partai NU sebagai partai politik yang independen karena:
a.    Adanya dualisme keanggotaan di Masyumi, yakni individual dan organisasi.
b.    Tidak adanya kesetaraan hak yang diberikan kepada anggotanya.
c.    Didirikannya sebuah pimpinan pusat umat Islam Indonesia yang baru.
d.   Tidak adanya perjuangan yang sungguh-sungguh dalam parlemen, sehingga tidak sejalan dengan prinsip Islam sebagaimana yang dianut oleh Masyumi.
Pada tahun 1952 beliau memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSSI), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dan Darul Dakwah Wa al Isyad (Tempat melaksanakan dakwah dan bimbingan) dengan Abdul Wahid Hasyim duduk sebagai ketua, AbikusnoCokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.

Wahid Hasyim berhasil menjalankan semua kebijakannya sebagai Mentri Agama karena dua hal:
a.    Adanya stabilitas negara. Pada tahun 1948 Belanda mengakui kemerdekaan, sehingga pemerintah Indonesia tidak disibukkan dengan perjuangan kemerdekaan, lebih berkonsentrasi pada penataan pemerintahan dan program-programnya.
b.    Wahid Hasyim menduduki jabatan itu dalam waktu yang relatif lama. Waktu itu suatu kabinet selalu silih berganti dalam waktu yang pendek.


C.  PENUTUP
Masa hidup yang begitu singkat memberi isyarat kita bahwa tugas-tugas mediasi, membangun jembatan kultural dan memberi bentuk yang utuh dan padu adalah tugas seluruh generasi. KH. A Wahid Hasyim boleh dikatakan penggagas awal, peletak landasan, sedang bangunan itu sendiri masih belum tuntas hingga saat ini. Apa yang hari ini kita saksikan di negeri ini ternyata masih belum berubah banyak sejak zaman para “Founding Fathers” kita. Pertikaian, egoisme, dan kesenjangan kultural, inilah yang mesti menjadi perhatian kita saat ini.

Mereka orang yang terdahulu dari kita telah menanam, hingga kita yang memakan buahnya, maka sekarang kita menanam biar di makan orang-orang yang akan datang”
(KH. A. Wahid Hasyim)




DAFTAR PUSTAKA

Basori, Rachman, 2008, The Founding Father Pesantren Modern Indonesia Jejak Langkah K. H. A. Wahid Hasyim, Jakarta: Inceis

Kantor Berita Ekonomi, 12 Juni 2008, KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953),

Rifai, Muhammad, 2009, Wahid Hasyim Biografi Singkat 1914-1953, Jogjakarta: Garasi

Uneis, 15 Juni 2010, Kiprah Politik KH. Abdul Wahid Hasyim, Pesantren Tebuireng

Zaeni, Achmad, 2003, KH. Abdul Wahid Hasyim Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan, Jakarta: Forum Indonesia Satu


[1] Mohammad Rifai, Wahid Hasyim Biografi Singkat 1914-1953, 2009, Jogjakarta: Garasi, hal 16.
[2] Kantor berita ekonomi syariah, KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953), 12 juni 2008
[3]Ibid.

[4] Achmad Zaeni, KH. ABDUL WAHID HASYIM Pembaru Pendidikan Islam Dan Pejuang Kemerdekaan,2003,Jakarta;Forum Indonesia Satu, hal 68
[5] Ibid, hal 71-73
[6] Uneis,Kiprah Politik KH. Abdul Wahid Hasyim,15 juni 2010,Pesantren Tebuireng,
[7] Achmad Zaeni, KH. ABDUL WAHID HASYIM Pembaru Pendidikan Islam Dan Pejuang Kemerdekaan,2003,Jakarta;Forum Indonesia Satu, hal 78
[8] Ibid, hal 80-82
[9] Ruchman Basori, The Founding Father Pesantren Modern Indonesia Jejak Langkah K. H. A. Wahid Hasyim, 2008, Jakarta: Inceis, hal 80

Tidak ada komentar:

Posting Komentar