Oleh
: M. Almustafad
Pendahuluan
Pendidikan di pesantren selalu menjadi sebuah kajian yang menarik bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri dibanding jenis pendidikan yang lain, semisal pendidikan umum, tetapi juga karena kaya akan konsep-konsep yang tidak kalah bermutu dibanding dengan pendidikan modern. Dalam hazanah pemikiran pendidikan di lingkungan pesantren, banyak kita temukan tokoh-tokoh besar dengan ide-idenya yang cerdas dan kreatif yang menjadi inspirasi dan konstribusi yang besar bagi dinamika pendidikan islam, khususnya pesantren dan madrasah di Indonesia.
Mempelajari gagasan dan pemikiran tokoh
masa lalu merupakan sebuah upaya revitalisasi pemikiran pendidikan di
indonesia, yang harus terus menerus dilakukan dengan berbagai pendekatan dan
metode disiplin ilmu (multi-inter-disipliner).
Di samping itu, merupakan aktualisasi pemikiran dan gerakan seorang tokoh yang
bisa di jadikan model/contoh bagi para pelaku-pelaku pendidikan masa kini.
Mengenal
KH. Abdul Wahid Hasyim
Salah satu tokoh yang paling berpengaruh
dalam dunia pendidikan islam adalah KH. Abdul Wahid Hasyim. Putra dari KH.
Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh binti Kyai Ilyas. Wahid Hasyim lahir pada hari
jum’at legi, tanggal 5 Rabiul Awal 1333 H, bertepatan dengan 1 Jumi 1914 di
Desa Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Oleh ayahnya KH. Hasyim Asy’ari diberi
nama Muhammad Asy’ari, terambil dari nama kakeknya. Konon karena Beliau sering
sakit-sakitan, kemudian oleh ayahnya diganti dengan nama Abdul Wahid,
pengambilan dari nama seorang datuknya.
Keluarga besar Pesantren Tebuireng
menyambut suka cita atas kelahiran Wahid Hasyim. Suatu kebahagiaan yang amat
besar, bayi yang rupawan itu adalah laki-laki yang pertama, setelah sebelumnya
dianugerahi empat orang putri yaitu : Abdullah (meninggal masih bayi), Hanna,
Ummu Abd. Jabar, Ummu Muhammad dan Ummu Abd. Haq. Jadi keempat kakak Wahid
Hasyim yang masih hidup waktu beliau adalah perempuan, sedang kakak pertamanya
yang laki-laki meninggal waktu lahir. Wahid Hasyim adalah anak kelima yang
masih hidup. Sedang adiknya ada sembilan orang yaitu; Abd. Hafidz, Abd karim,
Ubaidillah, Masruroh, Yusuf, Abd Kadir, Fatimah, Khadijah, dan Abd Ya’qub. Dari
kesepuluh putra putra Hasyim Asy’ari yang masih hidup adalah tiga orang, yaitu
Yusuf Hasyim (sekarang meneruskan perjuangan ayahnya memimpin pesantren
Tebuireng) dan kedua adiknya yaitu Fatimah dan A. Ya’qub.[1]
Wahid Hasyim memiliki otak yang sangat
cerdas. Pada usia 5 tahun beliau sudah belajar membaca al-Quran dan khatam pada
usia 7 tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya beliau juga
belajar di bangku madrasah di pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun beliau
sudah tamat madrasah dan mulai membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak
seusianya.
Masa kecil Wahid Hasyim di isi dengan
mengasuh di madrasah Tebuireng. Sejak kecil beliau sudah hobi membaca dan giat
mempelajari ilmu-ilmu kesusastraan dan budaya Arab scara otodidak. Beliau hafal
banyak syair Arab yang kemudian disusun menjadi sebuah buku. Sebagai seorang
anak tokoh, beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah
pemerintah Hindia Belanda. Pada usia 13 tahun beliau memulai petualangan dalam
mencari ilmu, di mulai dari pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di
Sidoarjo. Di sana ia belajar kitab-kitab Bidayah,
Sulamun Taufiq, Taqrib dan Tafsir Jalalain. Namun beliau hanya belajar
selama 25 hari di pesantren tersebut. Selanjutnya beliau pindah ke pondok
pesantren Lirboyo, Kediri, namun di sana beliau cuma beberapa hari saja.
Setelah dari Lirboyo beliau tidak melanjutkan pengembaraan lagi melainkan memilih
untuk tinggal di rumah saja.
Dengan berpindah-pindah pondok dan
nyantri hanya dalam hitungan hari itu seolah-olah yang di butuhkan Wahid hasyim
keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Menurut beliau ilmu bisa di cari
dimana saja, tapi soal memperoleh keberkatan sang guru harus dilakukan
dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menetap di pesantren. Mungkin inilah yang
menjadi pertimbangan Wahid Hasyim pada waktu itu.
Ketika kembali ke Tebuireng tahun 1929,
umurnya baru 15 tahun dan baru mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf
latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Beliau belajar ilmu bumi, bahasa
asing, matematika dan ilmu lainnya. Beliau juga berlangganan koran majalah,
baik yang berbahasa Indonesia, arab maupun belanda.
Pada tahun 1932, ketika berusia 18
tahun, Wahid Hasyim dengan di temani sepupunya Muhammad Ilyas pergi ketanah
suci mekah. Selain untuk menjalankan ibadah haji, mereka berdua juga bertujuan
untuk memperdalam ilmu pengetahuan di sana, seperti ilmu tasawuf, shorof, fiqh,
tafsir, dan hadist. Mereka berdua menetap di tanah suci selama 2 tahun.
Sepulang Wahid Hasyim dari Mekkah beliau
langsung mengamalkan ilmunya dengan menjadi staf pengajar di pesantren
Tebuireng. Beliau juga ditunjuk sebagai asisten ayahnya yang tugasnya, antara
lain menjaga kesinambungan proses belajar mengajar (PMB), menjawab surat-surat
yang berkaitan dengan fiqih yang ditujukan kepada ayahnya dan mendatangi
pengajian atau ceramah.[2]
Menggantikan ayahnya dalam berbagai pertemuan para tokoh. Bahkan ketika ayahnya
sakit, beliau menggantikan membacakan kitab Shahih Bukhori, yakni pengajian
tahunan yang di ikuti oleh para ulama dari berbagai penjuru tanah Jawa dan
Madura.[3]
Pada usia 25 tahun Wahid Hasyim
mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting gadis bernama Solichah, putri
KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu masih berusia 15 tahun. Pasangan ini
dikaruniai enam orang putra;
1.
Abdurrohman ad-Dakhil
(mantan presiden RI)
2.
Aisyah (Ketua umum PP
Muslimat NU, tahun 1995-2000)
3.
Shalahudin al-Ayyubi
(Insinyur lulusan ITB/ Pengasuh PP Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim)
4.
Umar (dokter lulusan
UI)
5.
Khadijah
6.
Hasyim
Sayang sekali, Wahid Hasyim tidak sempat
mendidik anak-anaknya lebih lama karena beliau meninggal dunia dalam usia yang
relatif muda yaitu 39 tahun. Beliau wafat dalam sebuah kecelakaan mobil antara
Cimahi dan Bandung pada tanggal 19 April 1953, dalam rangka perjalanan
menghadiri rapat NU di Sumedang. Jenazah dari Jakarta di terbangkan ke
Tebuireng, dan di makamkan di samping makam ayahnya.[4]
Pengaruh KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Dunia
Pendidikan Islam di Indonesia
1)
Revolusi
Pesantren Tebuireng
Sepulang dari Mekkah pada akhir tahun
1933 Wahid Hasyim mulai bergerak. Beliau mulai memasuki masyarakat dan mulai
memimpin dan mendidik. Pekerjaan itu di mulai dalam lingkungan pondok pesantren
Tebuireng. Hasrat Wahid Hasyim untuk mengadakan revolusi dalam dunia sudah
mulai nampak. Cara kuno yang hanya terjadi dari mendengar dan menggantungkan
makna pada kitab-kitab fiqih mulai ditinjau kembali oleh beliau. Dalam
mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, beliau rencana yang
matang. Beliau tidak ingin gerakan ini gagal ditengah jalan. Untuk itu, Wahid
Hasyim mengadakan langkah-langkah sebagai berikut;
· Menggambarkan
tujuan dengan sejelas-jelasnya
· Menggambarkan
cara mencapai tujuan itu
· Memberikan
keyakinan dan jalan-jalan bahwa dengan bersungguh-sungguh tujuan yang
digambarkan itu bisa tercapai[5]
Tujuan Wahid Hasyim tidak lain hanya untuk
memajukan pengajaran dan pendidikan Islam di pesantren. Wahid Hasyim yang telah
memiliki cukup ilmu dan pengalaman, dan telah memiliki pandangan yang luas
dalam memperbandingkan metode pemgajaran di luar dan dalam negeri, ingin
memberikan sumbangan dalam hal ini untuk kemajuan dunia pesantren. Beliau tidak
ingin lagi melihat para santri lebih rendah kedudukannya dalam masyarakat dari
pada kaum terpelajar Barat.
Meski tidak pernah mengenyam pendidikan
modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian
di aplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan.
Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia pada awal abad ke-20, merupakan wujud
dari upaya yang dilakukan cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang
melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak
lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.[6]
Setelah percobaan metode baru ini yang
terdiri penggabungan ilmu Agama Islam dan pengetahuan umum berhasil, bertambah
yakinlah Wahid Hasyim bahwa beliau harus bekerja lebih giat dan harus meluaskan
usahanya menjadi suatu usaha yang tetap.
Pada tahun berikutnya yaitu tahun 1935
dimulailah membuka dengan cara besar-besaran sebuah madrasah yang modern, yang
dinamakan Madrasah Nizamiyah, suatu
perguruan yang diciptakan Wahid Hasyim sendiri., dengan cara dan daftar
pelajaran yang belum pernah terjadi dan belum pernah ada yang berani
menciptakan sebagai salah satu bentuk pesantren Islam. Disamping pelajaran
agama Islam, didalamnya di berikan pula pelajaran-pelajaran ilmu pengetahuan
umum, juga pelajaran bahasa Arab, Indonesia, Belanda dan Inggris. Segala kritik
serangan mengenai usahanya dari berbagai golongan tidak diindahkan oleh Wahid
Hasyim. Semua itu disambut dengan tenang dan beliau berjalan dengan penuh
keyakinan sebagai seorang idealist.
Madrasah yang didirikan oleh Wahid
Hasyim semakin lama semakin maju dan semakin banyak murid yang datang untuk
bersekolah disana. Pada tahun 1936 beliau mendirikan IKPI (Ikatan
Pelajar-pelajar Islam) yang diketuai oleh beliau sendiri. Organisasi ini berkembang
cukup pesat, tidak lama kemudian organisasi ini mendirikan sebuah taman bacaan
atau perpestakaan yang menyediakan hampir 1000 judul bacaan untuk anak-anak dan
pemuda. Buku-buku bacaan itu terdiri dari bahasa Indonesia, Arab, Jawa, Madura,
Sunda, Belanda dan Inggris. Suatu kemajuan yang luar biasa di pesantren pada
waktu itu.
2)
Perjuangan
di NU
Pada tahun 1938 Wahid Hasyim mulai aktif
di NU, memulai karir dari menjadi sekretaris di NU Ranting Cukir, kemudian naik
menjadi pengurus cabang Jombang. Lalu tahun 1940 beliau masuk kepengurusan PBNU
bagian Ma’arif (pendidikan). Di tubuh Ma’arif NU Wahid Hasyim mengembangkan dan
mereorganisasi terhadap madrasah-madrasah NU di seluruh Indonesia dengan cara
mendata jumlah madrasah, tenaga pengajar, kurikulum dan administrasi madrasah,
serta meningkatkan wawasan pengetahuan baru yang diperlukan sebagai alat
perjuangan umat Islam. Beliau juga giat mengembangkan tradisi tulis menulis di
kalangan NU, dengan menerbitkan Majalah Suluh Nahdlatul Ulama. Beliau juga
aktif menulis di Suara NU dan berita NU. Setelah NU berubah menjadi partai
politik, Wahid Hasyim sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.
3)
Masa
Setelah Kemerdekaan
Di dalam kabinet pertama yang di bentuk
Presiden Soekarno (September 1945), Wahid Hasyim ditunjuk sebagai Menteri
Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir tahun 1946. Ketika KNIP di bentuk,
Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggota anggotanya mewakili Masyumi dan
meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946. Setelah terjadi penyerahan
kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam kabinet Hatta beliau diangkat menjadi
Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga
kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, Kabinet Sukiman.[7]
Selama menjabat sebagai Menteri Agama
RI, Wahid Hasyim mengeluarkan tiga keputusan yang sangat mempengaruhi sistem
pendidikan Indonesia di masa kini, yaitu ;
a) Mengeluarkan
peraturan pemerintah tertanggal 20 januari 1950, yang mewajibkan pendidikan agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri
maupun swasta.
b) Mendirikan
sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang, Banda Aceh, Bandung, Bukit Tinggi dan
Jogjakarta.
c) Mendirikan
Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjung Pinang, Banda Aceh, Padang,
Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan dan Salatiga.
Jasa lainnya adalah pendirian Sekolah
Tinggi Islam di Jakarta (tahun 1944), yang pengasuhnya di tangani oleh KH.
Kahar Muzzaki. Lalu pada tahun 1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama
Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN/UIN/STAN, serta mendirikan wadah
Panitia Haji Indonesia (PHI). Wahid Hasyim juga memberikan ide kepada presiden
Soekarno untuk mendirikan masjid Istqlal
sebagai masjid negara.[8]
4)
Ditetapkan
Sebagai Pahlawan Nasional
Berdasarkan Surat keputusan Presiden
Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid
Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, mengingat jasa-jasanya
sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu
kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa.[9]
Penutup
Dari urian diatas, dapat kita simpulkan
bahwa, model pembaharuan pesantren dan madrasah yang di gagas Wahid Hasyim
adalah cara memperbaharui aspek kelembagaan, isi, metodologi dan fungsi lembaga
pesantren dan madrasah. Sedang model yang diambil adalah mengembangkan sistem
dan kelembagaan yang dimilikinya, bukan cara mengadopsi sistem pendidikan Barat
secara keseluruan. Satu hal yang bisa kita contoh dari seorang KH. Abdul Wahid
Hasyim adalah kegigihannya dalam memperjuangkan kaumnya dan sifat pantang
menyerah dalam mencapai apa yang di cita-citakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bakar,
Abu. (1957). Sejarah Hidup H. A. Wahid
Hasyim dan Karangan
Tersiar, Jakarta;panitia
buku peringatan alm. KH. A. Wahid Hasyim
Uneiz, 9 Febuari 2009, KH. A. Wahid Hasyim Pembaharu Dunia Pesantren
Kantor
Berita Ekonomi Syariah,12 Juni 2008, KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953)
Dihya, 25 Maret 2010, KH. Wahid Hasyim
Basori,
Rachman, 2008, The Founding Father
Pesantren Modern Indonesia Jejak Langkah K. H. A. Wahid Hasyim, Jakarta:
Inceis
Zaeni,
Achmad, 2003, KH. Abdul Wahid Hasyim
Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan, Jakarta: Forum Indonesia
Satu
[1] Ruchman Basori, THE FOUNDING FATHER Pesantren Modern Islam
Jejak Langkah KH. A. Wahid Hasyim ,jakarta;ineis,2008,hal 58-59
[2] Ibid, hal 68
[3] Uneiz, KH. A. Wahid Hasyim Pembaharu Dunia
Pesantren, 9 Febuari 2009
[4] Ibid, hal 68
[5] Abu Bakar, Sejarah Hidup H. A. Wahid Hasyim dan
Karangan Tersiar, Jakarta,panitia buku peringatan alm. KH. A. Wahid Hasyim,1957, hal 150
[6]Kantor Berita Ekonomi
Syariah, KH. Abdul Wahid Hasyim
(1914-1953),12 Juni 2008
[7] Dihya, KH. Wahid Hasyim, 25 Maret 2010
[8]
Ibid
[9] Ibid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar