oleh M Al Mustafad
"Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca
atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis.
Suatu saat pasti berguna." (Pramoedya Ananta Toer).Arswendo pernah mengatakan Mengarang Itu Gampang lewat sebuah buku. Kini ada Menembus Koran: Berani Menulis Artikel. Maka dari itu, kehadiran buku ini bisa menambah kepustakaan mereka yang akan belajar menulis.
Kemampuan menulis memang tak selalu linier dengan tingkat pendidikan. Orang yang dapat menyelesaikan jenjang pendidikan, mulai dari strata satu (S-1), S-2, S-3 hingga bergelar profesor pun kenyataannya tidak sedikit yang mengalami kesulitan menulis berkualitas yang memberi pencerahan, pelita dalam kegelapan (hlm 9).
Tidak semua orang bisa menulis (artikel) meski sebenarnya menulis itu mengasyikkan. Dia menjadi sarana berekpresi, berimajinasi, dan menuangkan gagasan atau ide-ide. Untuk menjadi penulis hebat, seseorang harus hobi membaca seperti diungkapkan Stephen King. "Kalau ingin menjadi penulis, Anda harus meletakkan dua hal ini: banyak membaca dan banyak menulis, di atas lainnya."
Bagaimana seseorang mampu menulis satu lembar halaman jika membaca buku/koran saja enggan? Apa yang mau dituangkan dalam secangkir gelas kalau air saja tidak punya? Logikanya semacam itu (hlm 28). Membaca memiliki manfaat yang sangat banyak. Orang yang banyak membaca memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa dan tidak akan kesulitan saat mencari bahan menulis sebab tinggal mengingat-ingat atau membuka kembali buku/koran yang pernah dibaca. Bacaan melahirkan ide-ide atau gagasan-gagasan. Jika sudah muncul, segeralah tuangkan gagasan tersebut ke dalam sebuah tulisan.
Cara awal paling efektif untuk belajar menulis adalah dengan membiasakan diri membuat diary. Menulis diary akan sangat membantu seseorang melatih menulis. Diary merupakan catatan dapat menjadi arena mengungkapkan apa saja. Menulis diary jelas memiliki banyak keuntungan. Setidaknya kebiasaan menulis diary akan membantu seseorang menjaga ritme tulisan, menajamkan kemampuan berpikir, termasuk menuangkan gagasan, mengolah kata untuk menghasilkan sebuah karya (hlm 24).
Penulis pemula sering kesulitan memulai sebuah artikel (opini, kolom, dan resensi buku) terutama untuk menemukan kalimat awal yang tepat. Tak jarang dia hanya sibuk mencari kalimat dan tidak menghasilkan tulisan apa pun. Prinsip utama dalam membuat artikel, tulis saja semuanya. Tuangkan saja kegelisahan hati dan itu akan menjadi pemantik karya.
Tidak mungkin seseorang dengan suasana hati yang adem ayem tenterem, datar tanpa gejolak akan menghasilkan tulisan yang inspiratif, memukau, dan menyihir khalayak (hlm 32).
Pada saat belajar, lupakan pikiran bahwa tulisan bakal tidak enak dibaca atau mudah dipahami. Jangan juga berbicara ada penerbit yang mau mencetak. Yang terpenting mulai saja untuk menulis dan fokus pada materi tulisan. Setelah selesai, biasakan membaca ulang tulisan untuk sekadar membetulkan salah tik dan mengedit gagasan, juga endapkan beberapa waktu karena biasanya akan muncul ide baru yang lebih cemerlang dari bahan-bahan yang sudah ditulis.
Meminjam ungkapan KH Abdullah Gymnastiar, untuk menjadi seorang penulis yang perlu dilakukan hanyalah 3M. Tiga langkah yang sangat sederhana: membaca, menulis, dan mulailah dari sekarang. Satu lagi, belajar menulis itu perlu keberanian, terutama keberanian untuk memulai.
Buku ini sangat cocok untuk mereka yang mau belajar menulis artkel baik untuk diterbitkan di media maupun mentransfer ilmu kepada masyarakat luas (pembaca) melalui tulisan.
Di muat di Koran Jakarta, 22 Juli 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar