Oleh M Al Mustafad
Mahasiswa FISIP Unwahas Semarang
Dalam pelaksanaannya, Ospek mengalami banyak pergeseran tujuan. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa Ospek sangat identik dengan budaya kekerasan, arogansi senior yang menyebabkan banyak intimidasi senior kepada junior.
Hal ini dapat bedampak buruk bagi mahasiswa baru. Mahatma Gandhi (1869-1948) mengatakan, ‘’Kekerasan adalah senjata (orang/bangsa/manusia) yang jiwanya lemah. Kelemahan jiwa merupakan kelemahan sejati.’’ Mahasiswa (senior) sebagai seorang intelektual muda seharusnya memiliki jiwa yang kuat yang lebih mengedepankan sisi intelektualnya ketimbang sisi premanisme yang lebih cenderung ke arah tindak kekerasan, baik fisik maupun kekerasan psikologis.
Jika fenomena kekerasan terus terjadi, maka Ospek akan terus menjadi ajang untuk melestarikan kekerasan yang akan menjadi warisan bagi mahasiswa baru berikutnya. Dengan demikian, Ospek hanya akan menjadi ajang balas dendam mahasiswa lama (senior) yang belum tersampaikan yang akhirnya terlampiaskan kepada mahasiswa baru (junior). Ospek seharusnya membangun budaya argumentasi, bukan konfrontasi.
Ospek juga dapat dijadikan sebagai alat sosialisasi untuk mengembangkan budaya diskusi bagi mahasiswa baru. Hal ini bisa diaplikasikan dengan membuat lebih banyak format kegiatan diskusi, debat, tukar pikiran dan dialog antarmahasiswa, dosen dan unsur civitas academica lainya. Hal ini sangat efektif untuk membangun ikatan emosional antarmahasiswa baru dengan mahasiswa lama, dosen.ataupun pegawai universitas lainnya.
Menciptakan format Ospek yang lebih humanis adalah salah satu solusi yang harus digagas oleh panitia. Hal ini diharapkan secara perlahan akan mengikis tradisi kekerasan yang selama ini melekat pada pelaksanaan Ospek.
di muat di Suara Merdeka, 27 Agustus 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar