Minggu, 14 Juli 2013

Kiai dan Modernisasi Pendidikan Pesantren





Jauh sebelum munculnya lembaga pendidikan konvensional di Indonesia, pesantren telah muncul dan eksis sebagai lembaga pendidikan khususnya dalam bidang agama di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia, pesantren memiliki keunikan tersendiri dibanding lembaga pendidikan lainnya. Dalam bahasa NurcholishMadjid pesantren disebut sebagai lembaga yang tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga indigenous, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya.
Ditengah arus modernisasi yang terus bergulir di Indonesia, pesantren terbukti masih tetap eksis dan tak lekang ditelan zaman. Hal ini terbukti masih banyaknya jumlah pesantren baik pesantren salaf (tradisional) maupun pesantren khalaf (modern) yang tersebar di seluruh Indonesia yang jumlahnya mencapai 14.656 pesantren (hal, 48). Ditengah perkembangannya tidak sedikit kalangan yang masih meragukan dan menganggap pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang konservatif, tradisional, kolot dan terbelakang. Menanggapi hal itu, Halim Soebahar melalui buku bertajuk Modernisasi Pesantren, Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren ini mencoba untuk melawan pandangan sinis tentang dunia pesantren.
Buku yang merupakan hasil penelitian Soebahar di lima pesantren di Madura ini mengungkapkan fakta bahwa perkembangan dunia pendidikan pesantren tidak selamanya menjadi lembaga pendidikan yang kolot dan ketinggalan (hal, 17). Buku ini secara khusus menyajikan bagaimana dinamikan perkembangan pesantren dalam menghadapi tuntutan zaman yang semakin maju.
Setiap pesantren memiliki cara yang bervariasi dalam mengembangkan sistem pendidikan yang dijalankan. Dalam hal ini, peran Kiai sangat dominan terkait tentang kebijakan yang berlaku di lingkungan pesantren. Dalam lingkup pesantren tradisional, Kiai memiliki kuasa penuh dalam mengatur kebijakan regualasi dan administrasi pesantren. Namun, seiring berjalannya waktu tidak sedikit para pemimpin pesantren (Kiai) yang mulai sadar akan pentingnya pembagian tugas dan wewenang dalam mengelola sebuah pesantren. Meskipun keputusan tertinggi tetap berada di tangan Kiai.
Dengan adanya pembagian tugas dan wewenang dalam mengelola pesantren, Pesantren sebagai lembaga pendidikan, secara terus menerus melakukan transformasi, bermula dari tradisional dalam arti sesuai dengan kebutuhan pada masanya, kemudian dikembangkan dengan perbaikan metodologi dan perluasan materi/bahan ajar dengan penambahan pengetahuan umum. Pesantren model ini yang selanjutnya disebut pesantren modern (hal, 76).
Dengan demikian peran Kiai dalam dunia pesantren saat ini dapat di bagi menjadi 3 hal. Pertama, Kiai sebagai motivator, dalam hal ini bisa dilihat ketika Kiai menyerahkan sebagian wewenangnya kepada pengurus pesantren untuk mengelola pesantren sesuai kapasitasnya. Kedua, Kiai sebagai koordinator yang bertanggung jawab dalam mengoordinir seluruh anggota pengurus pesantren. Ketiga, Kiai sebagai fasilitator. Dalam hal pengembilan keputusan dalam mengelola pesantren Kiai melibatkan partisipasi seluruh pengurus dan staff pengajar di pesantren untuk meningkatkan mutu pendidikan dan sistem pengajaran di pesantren.
Buku ini secara garis besar membahas tentang peran Kiai dalam membangun sebuah pesantren menjadi sebuah lembaga yang meminjam istilah Gus Dur sebagai lembaga transformasi sosial yang tidak hanya mentranformasikan ilmu agama (Islam), namun lebih dari itu. Pesantren diyakini mampu mencetak intelektual muslim yang memiliki wawasan agama yang luas dan mampu terjun kedalam masyarakat.Hal ini sekaligus membantah bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang konservatif, terbelakang dan kolot.

Peresensi : M. Al Mustafad, Mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Semarang
_________________________________
Judul Buku : Modernisasi Pesantren: Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren
Penulis : Prof. Dr. Abd. Halim Soebahar
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Tebal : 244 halaman
Cetakan : I, 2013
ISBN : 9786021757529 
di publikasikan pertama kali oleh Koran Online Rimanews.com Sabtu, 13 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar