Jauh sebelum munculnya lembaga pendidikan
konvensional di Indonesia, pesantren telah muncul dan eksis sebagai lembaga
pendidikan khususnya dalam bidang agama di Indonesia. Sebagai lembaga
pendidikan pribumi tertua di Indonesia, pesantren memiliki keunikan tersendiri
dibanding lembaga pendidikan lainnya. Dalam bahasa NurcholishMadjid pesantren
disebut sebagai lembaga yang tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi
juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga
indigenous, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis
masyarakat lingkungannya.
Ditengah arus modernisasi yang terus bergulir di
Indonesia, pesantren terbukti masih tetap eksis dan tak lekang ditelan zaman.
Hal ini terbukti masih banyaknya jumlah pesantren baik pesantren salaf
(tradisional) maupun pesantren khalaf (modern) yang tersebar di seluruh
Indonesia yang jumlahnya mencapai 14.656 pesantren (hal, 48). Ditengah
perkembangannya tidak sedikit kalangan yang masih meragukan dan menganggap
pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang konservatif, tradisional, kolot
dan terbelakang. Menanggapi hal itu, Halim Soebahar melalui buku bertajuk
Modernisasi Pesantren, Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem
Pendidikan Pesantren ini mencoba untuk melawan pandangan sinis tentang dunia
pesantren.
Buku yang merupakan hasil penelitian Soebahar di
lima pesantren di Madura ini mengungkapkan fakta bahwa perkembangan dunia
pendidikan pesantren tidak selamanya menjadi lembaga pendidikan yang kolot dan
ketinggalan (hal, 17). Buku ini secara khusus menyajikan bagaimana dinamikan
perkembangan pesantren dalam menghadapi tuntutan zaman yang semakin maju.
Setiap pesantren memiliki cara yang bervariasi
dalam mengembangkan sistem pendidikan yang dijalankan. Dalam hal ini, peran
Kiai sangat dominan terkait tentang kebijakan yang berlaku di lingkungan
pesantren. Dalam lingkup pesantren tradisional, Kiai memiliki kuasa penuh dalam
mengatur kebijakan regualasi dan administrasi pesantren. Namun, seiring
berjalannya waktu tidak sedikit para pemimpin pesantren (Kiai) yang mulai sadar
akan pentingnya pembagian tugas dan wewenang dalam mengelola sebuah pesantren.
Meskipun keputusan tertinggi tetap berada di tangan Kiai.
Dengan adanya pembagian tugas dan wewenang dalam
mengelola pesantren, Pesantren sebagai lembaga pendidikan, secara terus menerus
melakukan transformasi, bermula dari tradisional dalam arti sesuai dengan
kebutuhan pada masanya, kemudian dikembangkan dengan perbaikan metodologi dan
perluasan materi/bahan ajar dengan penambahan pengetahuan umum. Pesantren model
ini yang selanjutnya disebut pesantren modern (hal, 76).
Dengan demikian peran Kiai dalam dunia pesantren
saat ini dapat di bagi menjadi 3 hal. Pertama, Kiai sebagai motivator, dalam
hal ini bisa dilihat ketika Kiai menyerahkan sebagian wewenangnya kepada
pengurus pesantren untuk mengelola pesantren sesuai kapasitasnya. Kedua, Kiai
sebagai koordinator yang bertanggung jawab dalam mengoordinir seluruh anggota
pengurus pesantren. Ketiga, Kiai sebagai fasilitator. Dalam hal pengembilan
keputusan dalam mengelola pesantren Kiai melibatkan partisipasi seluruh
pengurus dan staff pengajar di pesantren untuk meningkatkan mutu pendidikan dan
sistem pengajaran di pesantren.
Buku ini secara garis besar membahas tentang
peran Kiai dalam membangun sebuah pesantren menjadi sebuah lembaga yang
meminjam istilah Gus Dur sebagai lembaga transformasi sosial yang tidak hanya
mentranformasikan ilmu agama (Islam), namun lebih dari itu. Pesantren diyakini
mampu mencetak intelektual muslim yang memiliki wawasan agama yang luas dan
mampu terjun kedalam masyarakat.Hal ini sekaligus membantah bahwa pesantren
merupakan lembaga pendidikan yang konservatif, terbelakang dan kolot.
Peresensi : M. Al Mustafad, Mahasiswa Universitas
Wahid Hasyim Semarang
_________________________________
Judul Buku : Modernisasi Pesantren: Transformasi
Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren
Penulis : Prof. Dr. Abd. Halim Soebahar
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Tebal : 244 halaman
Cetakan : I, 2013
ISBN : 9786021757529
di publikasikan pertama kali oleh Koran Online
Rimanews.com Sabtu, 13 Juli 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar