Jauh
sebelum Islam masuk, di Nusantara terdapat agama kuno yang disebut Kapitayan. Yang secara keliru dipandang
sejarawan Belanda sebagai Animisme dan Dinamisme. Sebuah kepercayaan yang
memuja sesembahan utama yang disebut Sanghyang Taya. Orang Jawa mendefinisikan
Sanghyang Taya dalam satu kalimat “tan
kena kinaya ngapa” alias tidak bias diapa-apakan keberadaan-Nya. Untuk itu,
supaya bias disembah Sanghyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang
disebut Tu dan To, yang bermakna “daya Gaib”
yang bersifat adikodrati.
Melalui
buku Sufi Ndeso vs Wahabi Kota; Sebuah
Kisah Perseteruan Tradisi Islam Nusantara, Agus Sunyoto yang seorang
sejarawan dan peneliti Sejarah Islam Nusantara mencoba menjelaskan Sejarah
Islam Nusantara sebagai bentuk perlawanan terhadap kasus-kasus dan
pemikiran-pemikiran Islam Timur Tengah yang beberapa tahun terakhir ini semakin
menyudutkan ajaran Islam asli Nusantara yang dianggap menyeleweng dan berbeda
dengan ajaran-ajaran Islam di Negara-negara Timur Tengah.
Para
Saracen Merchants yang mendakwahkan
Islam di Nusantara tidak memahami ajaran Kapitayan
yang menjadi mainstream kepercayaan
masyarakat Nusantara. Namun, seiring kedatangan migrant muslim asal Campa
(1446-1471) yang kemudian lebih dikenal sebagai
ulama Wali Songo, terjadi asimilasi dan sinkretisasi antara ajaran Kapitayan dan ajaran Islam.
Dengan
kearifan para guru sufi yang disucikan, yang disebut susuhunan dalam konteks ajaran Hindu-Budha, Islam “dipribumikan” melalui ajaran Kapiyatan yang sudah dikenal masyarakat.
Oleh karena itu, Islam hasil dakwah ulama yang datang ke Nusantara pada
pertengahan abad ke 15 itu, sarat ditandai istilah-istilah lokal keagamaan Kapiyatan. Istilah-istilah Islam yang
asli berasal dari bahasa Arab “dipribumikan”
mengikuti istilah-istilah Kapiyatan seperti
Susuhunan untuk menggantikan Syaikh,
Kiai gelar kebangsawanan local kaum Brahmana yang setara dengan gelar Sayyid,
Habib, Syarif dalam Islam, guru Menggantikan Shalat, Upawasa (puasa) menggantikan Shoum, dsb.
Menurut
Sunyoto yang menjadi dasar pokok kebudayaan Indonesia Zaman madya adalah
kebudayaan Purba (Indonesia asli), tetapi telah diislamkan. Yang dimaksud
kebudayaan purba dalam konteks ini adalah kebudayaan Malaio-Polinesia pra-Hindu
yang disebut animisme dan dinamisme, yaitu kebudayaan yang lahir dari
kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki “daya sakti” dan kepercayaan terhadap arwah (hal 43).
Proses
asimilasi dan bahkan sinkretisasi ajaran agama sebagaimana terjadi di Nusantara,
hanya mungkin terjadi ketika islam disiarkan oleh kalangan ulama tasawuf yang
sangat longgar dalam penyampaian pemahaman agama kepada masyarakat dibanding
ulama fiqih yang cenderung skriptualis. Oleh karena itu, James L Peacock (1978)
menyatakan bahwa Islam yang datang di Nusantara adalah islam sufi yang dengan
mudah diterima serta diserap ke dalam sinkretisme.
Dalam
pasang surut perkembangan Islam di Indonesia telah terjadi berbagai peristiwa
yang terkait dengan kekurangpahaman terhadap eksistensi Islam Nusantara yang
dianggap penuh bi’ah, tahayul, dan
khurafat serta praktik-praktik syirik dari agama pagan. Untuk itu, Islam
Nusantara yang pluralis dan multicultural merupakan goresan tebal proses
sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Sayangnya, hal ini sering disalahpahami
dan dipandang rendah oleh kalangan terpelajar berlatar pendidikan barat. Mereka
menyebutnya sebagai islam Tradisional. Sebuah ajaran yang dianut masyarakat
pedesaan yang terbelakang dan tidak mampu memahami ajaran Islam secara benar.
Tak
hanya kalangan terpelajar yang mencoba menyudutkan ajaran Islam Nusantara.
Upaya ini juga dilakukan oleh Muslim yang berpaham Wahabi melalui kritik-kritik
dan isu pemberantasan penyakit TBC (Tachayul-Bid’ah-Churafat)
yang merusak akidah umat Islam. Islam Nusantara dipandang sebagai sebagai Islam
adat (costumary Islam), sedangkan
Islam yang menggugat Islam adat disebut Islam revivalis (revivalist Islam) yang sering disebut dengan “Islam fundamentalis”
atau “Wahabisme”. Reaksi para ulama yang berusaha mempertahankan eksistensi Islam
nusantara dari serangan sistematis itulah yang pada tahun 1926 mewujud dalam
organisasi social keagamaan Nahdlatul Ulama (NU).
Seiring
perjalanan sejarah, Islam Nusantara yang disebut Islam adat tetap menjadi
aliran mainstream yang dianut oleh
mayoritas bangsa Indonesia hingga abad 21 ini. Secara reprensentatif, citra
Islam Nusantara memiliki latar belakang ke-bhineka-an. Islam Nusantara dibangun
diatas pluralitas dan multikulturalitas agama-agama dan budaya antar bangsa
yang berbeda satu sama lain.
Ke-bhineka-an
amaliah peribadatan yang diterima sebagai keniscayaan tradisi keagamaan dengan
mengacu pada prinsip ushuliyah
mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik,
Islam Nusantara tumbuh dan berkembang dalam eksistensinya ditengah arus sejarah
peradaban manusia.
Peresensi M Al Mustafad, Peneliti el Wahid Center Semarang
data buku
Judul :Sufi “Ndeso” VS Wahabi Kota; Sebuah Kisah Peseteruan Tradisi Islam Nusantara
Penulis : Agus Sunyoto
Penerbit : Noura Books
Tebal :
286 halaman
No.
ISBN : 978-602-9498-59-2
Resensi di Majalah Gatra edisi 15-21 November 2012 hal 58.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar