Data Buku
Judul :MENGGUGAT
MODERNISME, Menggali Rentan Pemikiran Postmodernisme Jean Boudrillard
Penulis: : Medhy Aginta Hidayat
Cetakan : I, 2012
Tebal :
xii+176 halaman
ISBN :
978-602-8252-77-5
Apa yang kita alami
sekarang adalah hilangnya acuan bagi segala sesuatu. Yang ada hanyalah
simulacra.
Modernisasi mulai kehilangan landasan praktisnya untuk
memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya.
Modernisasi yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu
mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini justru
terbukti membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang
bahkan lebih menindas dan memperbudak. Pada titik inilah pemikiran tentang
kebudayaan postmodern memiliki arti penting. Perubahan watak dan karakter
modernism dalam tampilan yang paling kontemporer, telah mendorong lahirnya
tanggapan kritis terhadap kebudayaan dewasa ini.
Kesemarakan
dan kegairahan terhadap tema postmodernisme ini bukan tanpa alasan. Sebagai
sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan
reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan Proyek
Pencerahan dan menyebabkan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas.
Pemikiran kebudayaan postmodern Jean Baudrillard, sebagai salah satu kajian
penting paradigma postmodernisme, adalah salah satu kunci untuk memahami
pengertian dan watak postmodernisme.
Buku ini
merupakan upaya pengkajian ulang pemikiran-pemikiran Jean Baudrillard tentang
postmodernisme, khusunya terkait tentang fenomena social budaya dewasa ini
sebagai fokus pembahasan Jean Baudrillard.
Merebaknya
budaya massa dan budaya popular, dengan simbol-simbol shopping mall, iklan, dan opera sabun, menjamurnya pusat-pusat
kebugaran dan kursus kecantikan yang mengedepankan penampilan, lahirnya dunia
simulasi video game, simulasi perang
dan televisi serta dunia hiperealitas. Disneyland dan Universal Studio adalah
beberapa contoh kebenaran analisis Baudrillard. Secara tajam, dalam karyanya Symbolic Exchange and Death (1993),
Baudrillard menyatakan telah terjadinya pemutusan mendasar era postmodern dari
era modern, sebagaimana pemutusan era modern dari era pramodern (hal 89).
Secara semiotik menurut Baudrillard, era modern ditandai
dengan diterimanya makna, yang mengimplikasikan kedalaman, sebuah dimensi yang
tersembunyi yang tak nampak namun stabil dan utuh. Sementara dalam era
postmodern, makna tidak lagi ada. Dunia postmodern adalah tanpa makna, dimana
teori-teori berlalu lalang dalam ruang hampa, tanpa ada titik sauh apapun,
dimana segala sesuatu nampak jelas, eksplisit dan transparan, namun sangat
tidak stabil (hal, 155)
Tak hanya karya-karya Jean Baudrillard yang dikaji dalam
buku ini, kritik atas pemikiran postmodern Baudrillard oleh beberapa tokoh pun
tak lepas dari kajian Medhy Aginta Hidayat sebagai penulis buku Menggugat Modernisme : Mengenali Rentan
Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard ini.
Dalam penutup buku ini, Medhy menegaskan bahwa pemikiran
Baudrillard pun tak lepas dari banyak tokoh postmodernisme lainnya. Terlepas
dari kritik dan kelemahan-kelamahannya,
pemikiran Jean Baudrillard tetap sangat berguna bagi pemahaman realitas
kebudayaan dewasa ini. Demikian pula halnya dengan pendekatannya yang orisinil
dan kritis, yang dapat menjadi pilihan alternative bagi proses pembacaan
realitas kebudayaan dewasa ini yang tengah berubah cepat. Buku ini layak dibaca
oleh siapapun yang tertarik dengan kajian modernism dan posmodernisme.
Peresensi
M. Al
Mustafad
Mahasiswa
FISIP,
Universitas
Wahid Hasyim Semarang
Koran Jakarta ,Senin, 04 Maret 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar