Minggu, 14 Juli 2013

Pasca Modernisme dalam Kacamata Jean Baudrillard



Data Buku
Judul                           :MENGGUGAT MODERNISME, Menggali Rentan Pemikiran Postmodernisme Jean Boudrillard
Penulis:                       : Medhy Aginta Hidayat
Penerbit                     : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan                      : I, 2012 
Tebal                          : xii+176 halaman
ISBN                            : 978-602-8252-77-5

Apa yang kita alami sekarang adalah hilangnya acuan bagi segala sesuatu. Yang ada hanyalah simulacra.
Modernisasi mulai kehilangan landasan praktisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisasi yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini justru terbukti membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak. Pada titik inilah pemikiran tentang kebudayaan postmodern memiliki arti penting. Perubahan watak dan karakter modernism dalam tampilan yang paling kontemporer, telah mendorong lahirnya tanggapan kritis terhadap kebudayaan dewasa ini.
            Kesemarakan dan kegairahan terhadap tema postmodernisme ini bukan tanpa alasan. Sebagai sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan Proyek Pencerahan dan menyebabkan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pemikiran kebudayaan postmodern Jean Baudrillard, sebagai salah satu kajian penting paradigma postmodernisme, adalah salah satu kunci untuk memahami pengertian dan watak postmodernisme.
            Buku ini merupakan upaya pengkajian ulang pemikiran-pemikiran Jean Baudrillard tentang postmodernisme, khusunya terkait tentang fenomena social budaya dewasa ini sebagai fokus pembahasan Jean Baudrillard.
            Merebaknya budaya massa dan budaya popular, dengan simbol-simbol shopping mall, iklan, dan opera sabun, menjamurnya pusat-pusat kebugaran dan kursus kecantikan yang mengedepankan penampilan, lahirnya dunia simulasi video game, simulasi perang dan televisi serta dunia hiperealitas. Disneyland dan Universal Studio adalah beberapa contoh kebenaran analisis Baudrillard. Secara tajam, dalam karyanya Symbolic Exchange and Death (1993), Baudrillard menyatakan telah terjadinya pemutusan mendasar era postmodern dari era modern, sebagaimana pemutusan era modern dari era pramodern (hal 89).
Secara semiotik menurut Baudrillard, era modern ditandai dengan diterimanya makna, yang mengimplikasikan kedalaman, sebuah dimensi yang tersembunyi yang tak nampak namun stabil dan utuh. Sementara dalam era postmodern, makna tidak lagi ada. Dunia postmodern adalah tanpa makna, dimana teori-teori berlalu lalang dalam ruang hampa, tanpa ada titik sauh apapun, dimana segala sesuatu nampak jelas, eksplisit dan transparan, namun sangat tidak stabil (hal, 155)
Tak hanya karya-karya Jean Baudrillard yang dikaji dalam buku ini, kritik atas pemikiran postmodern Baudrillard oleh beberapa tokoh pun tak lepas dari kajian Medhy Aginta Hidayat sebagai penulis buku Menggugat Modernisme : Mengenali Rentan Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard ini.
Dalam penutup buku ini, Medhy menegaskan bahwa pemikiran Baudrillard pun tak lepas dari banyak tokoh postmodernisme lainnya. Terlepas dari kritik dan kelemahan-kelamahannya,  pemikiran Jean Baudrillard tetap sangat berguna bagi pemahaman realitas kebudayaan dewasa ini. Demikian pula halnya dengan pendekatannya yang orisinil dan kritis, yang dapat menjadi pilihan alternative bagi proses pembacaan realitas kebudayaan dewasa ini yang tengah berubah cepat. Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang tertarik dengan kajian modernism dan posmodernisme.

Peresensi
M. Al Mustafad
Mahasiswa FISIP,
Universitas Wahid Hasyim Semarang

Koran Jakarta ,Senin, 04 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar